Perempuan & Kanker: Perubahan Kecil Membawa Dampak Besar

Disumbangkan oleh: Dr Khoo Kei Siong

Kanker payudara dan kanker ginekologi dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian tidak hanya bagi perempuan usia paruh baya, tetapi juga kelompok usia yang lebih muda. Penyakit ini menunjukkan kecenderungan muncul pada usia yang lebih muda, memengaruhi perempuan dari berbagai kelompok usia, dan memberikan beban yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Dalam wawancara ini, Dr Khoo Kei Siong, Onkolog Medis dan Wakil Direktur Medis di Parkway Cancer Centre, Singapura, membagikan pandangan yang terbuka namun tetap optimistis mengenai tren terbaru dalam pencegahan, penatalaksanaan, dan pemulihan.

SKRINING DAN PENGOBATAN: KEMAJUAN UNTUK PERJALANAN YANG LEBIH RINGAN

Dalam pembahasan mengenai kanker payudara, Dr Khoo Kei Siong menyampaikan bahwa jumlah kasus kanker payudara di Singapura telah meningkat tiga kali lipat sejak tahun 1960-an, dan angkanya terus bertambah. Kanker payudara dapat terjadi pada usia berapa pun, bahkan pada pasien berusia 20-an. Riwayat keluarga tidak selalu menjadi faktor. Namun, jika terdeteksi sejak dini dan diobati dengan tepat, banyak kasus dapat disembuhkan. Sebagai contoh, kanker payudara stadium 1 memiliki tingkat kesembuhan lebih dari 90%.

Salah satu hambatan besar bagi perempuan adalah rasa takut menjalani skrining, baik karena khawatir akan rasa nyeri maupun cemas terhadap hasilnya. Menurut Dr Khoo, standar utama skrining tetap mammogram. Meskipun mungkin terasa tidak nyaman, mammogram dapat mendeteksi lesi prakanker yang mungkin terlewat oleh USG. Saat ini, mammografi 3D atau tomosintesis dapat menghasilkan gambar yang lebih jelas dengan rasa tidak nyaman yang lebih minimal. Tren skrining yang lebih personal juga semakin berkembang. Individu berisiko tinggi dapat memperoleh manfaat dari MRI, yaitu metode yang sangat akurat tetapi berbiaya tinggi, sehingga tidak direkomendasikan secara luas untuk populasi umum.

Terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada jumlah pasien muda dengan kanker payudara. Sementara itu, kasus kanker serviks mengalami penurunan di wilayah yang telah menerapkan Pap smear dan pemeriksaan HPV secara efektif, yang menunjukkan pentingnya pencegahan dan deteksi dini.

Dr Khoo juga menjelaskan bahwa perempuan muda yang belum menikah dan didiagnosis kanker payudara tetap memiliki kesempatan untuk mempertahankan kesuburan, asalkan perencanaan dilakukan sejak awal. Metode preservasi fertilitas meliputi supresi ovarium selama kemoterapi, pembekuan sel telur atau embrio, serta kriopreservasi jaringan ovarium untuk implantasi kembali di masa mendatang. Ia menyarankan untuk menunggu setidaknya dua tahun setelah pengobatan sebelum mencoba untuk hamil. Kehamilan tidak meningkatkan risiko kekambuhan, meskipun jika kekambuhan terjadi, hal tersebut dapat muncul lebih awal.

Selain itu, Dr Khoo menekankan bahwa pengobatan yang dipersonalisasi kini menjadi tren yang semakin jelas. Terapi semakin disesuaikan dengan profil genetik pasien dan tumornya (HER2, BRCA, PIK3CA, dan lainnya), sehingga memungkinkan pemilihan terapi target yang lebih tepat. Era pendekatan pengobatan yang sama untuk semua pasien mulai ditinggalkan, dan personalisasi ini membantu mengurangi efek samping serta meningkatkan hasil pengobatan.

“Berkat kemajuan medis, bahkan kanker agresif seperti kanker payudara HER2-positif kini dapat dikendalikan secara efektif dengan terapi target seperti Herceptin, sehingga pasien dapat hidup lebih dari 10 tahun dengan kualitas hidup yang baik. Selain itu, imunoterapi juga memberikan harapan baru bagi pasien dengan kanker stadium lanjut atau yang mengalami kekambuhan,” ujar Dr Khoo.

PEMULIHAN DAN GAYA HIDUP SEHAT SETELAH PENGOBATAN

Bagi para penyintas kanker, Dr Khoo memberikan dorongan semangat:

“Percayalah pada kemampuan diri untuk pulih. Buat rencana untuk tetap aktif secara fisik, jaga diri dengan baik, lakukan kontrol rutin, dan terus jalani hidup sepenuhnya dengan semangat serta hubungan yang bermakna.”

Ia menekankan pentingnya peran keluarga -terutama pasangan- dalam proses pemulihan fisik maupun emosional. Nutrisi dan olahraga juga menjadi faktor pendukung yang sangat penting. Penelitian menunjukkan bahwa pasien kanker payudara yang berolahraga tiga kali seminggu selama 30 menit dengan intensitas jalan cepat memiliki angka harapan hidup yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak berolahraga. Pola makan sehat, menjaga berat badan ideal, dan aktivitas fisik secara rutin tidak hanya membantu proses pemulihan, tetapi juga menurunkan risiko kekambuhan.

Dr Khoo juga menyampaikan optimismenya:

“Kemajuan medis terus berkembang setiap hari, terutama dalam terapi target dan imunoterapi. Saya percaya perkembangan ini akan secara signifikan meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup banyak pasien kanker payudara dan kanker ginekologi.”

Meskipun masih banyak hal mengenai kanker pada perempuan yang belum sepenuhnya dipahami, perkembangan ilmu kedokteran dan meningkatnya kesadaran masyarakat memberikan harapan yang semakin besar untuk melawan penyakit ini. Perubahan kecil -mulai dari menjalani skrining, meluangkan waktu untuk berolahraga, menjaga pola makan sehat, hingga menjaga pola pikir yang positif- dapat memberikan dampak besar dalam kehidupan seseorang.

DIPOSTING DI Perawatan Kanker
BACA SELENGKAPNYA TENTANG Kanker Payudara, Kanker Serviks
DITERBITKAN 01 Mei 2026