Berita & Artikel
Hidup dengan Baik Bersama Kanker Metastatik

Bagi pasien yang hidup dengan kanker metastatik, perjalanannya diwarnai oleh ketidakpastian, perubahan identitas, dan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang kendali dan makna. Berdasarkan percakapan nyata, Konselor Senior PCC, Chia Hui Erl, mengeksplorasi bagaimana penerimaan, harapan, dan koneksi membantu pasien bergerak menuju hidup yang lebih baik.
Dalam pekerjaan saya sebagai konselor yang mendukung pasien kanker metastatik, saya selalu diingatkan bahwa perjalanan kanker jauh lebih dari sekadar mengelola kondisi medis. Ini adalah perjalanan emosional dan eksistensial yang berkelanjutan, di mana pasien hidup dengan pemahaman bahwa tidak ada titik akhir yang jelas, namun tetap bangun setiap hari menghadapi hubungan, tanggung jawab, harapan, dan ketakutan. Dalam pengalaman ini terkandung konfrontasi dengan pertanyaan mendalam tentang waktu, identitas, kendali, dan makna, seringkali dalam dunia di mana pasien berjuang untuk sepenuhnya memahami kompleksitas pengalaman hidup mereka.
Hidup dengan kanker metastatik sering berarti belajar beradaptasi dengan ketidakpastian yang terus-menerus. Pasien mungkin bergumul dengan ketidaktahuan apakah pengobatan akan berhasil atau kapan pengobatan berhenti bekerja. Di samping itu adalah kekhawatiran tentang tingkat keparahan gejala, manajemen nyeri, hilangnya kendali, dan fluktuasi emosi. Ada juga kelelahan yang muncul dari membuat keputusan sulit tanpa jawaban yang jelas. Pasien sering bertanya, "Siapa saya ketika saya tidak lagi bisa melakukan apa yang biasa saya lakukan?" Perubahan pada tubuh dan peran dapat sangat mempengaruhi identitas dan kemandirian, sementara merencanakan masa depan yang tidak pasti menjadi tugas yang menyakitkan. Ketergantungan lebih besar pada orang lain dapat memicu ketakutan menjadi beban, sementara pasien sedang berduka atas kehilangan yang diantisipasi, mempertanyakan makna dan tujuan, serta merasa tidak pasti tentang apa yang harus diharapkan. Pergumulan ini adalah bagian normal dari proses penyesuaian dan dapat diringankan seiring waktu, dengan dukungan, dan belas kasih pada diri sendiri.
Penerimaan dimulai ketika pasien membuat pilihan aktif untuk berhenti melawan penyakit dan menghadapi kematian. Seperti yang dibagikan seorang pasien, "Saya sudah berharap untuk kesembuhan selama dua tahun terakhir. Sekarang saya datang untuk menerima bahwa saya harus hidup dengan kanker." Pada kenyataannya, "menerima" adalah proses yang berkelanjutan, bukan keadaan yang tetap. Itu dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan di banyak aspek pengalaman pasien—menerima progresi menuju kesadaran akan kematian. Saya mengamati bahwa kesadaran ini sering mengarahkan pasien untuk kembali fokus pada hidup yang baik dengan kanker metastatik—bergerak menuju menjalani hidup, bukan sekadar hidup dengan penyakit.
Dengan perubahan pola pikir ini, pasien sering belajar fokus pada penanggulangan dan membuat penyesuaian yang mengakomodasi penyakit dan keterbatasan yang terkait. Seorang pasien berbagi bahwa alih-alih merenungkan apakah dia bisa hidup sepuluh tahun lagi, dia memilih untuk fokus hidup sekarang dan hidup sepenuhnya. Inilah yang bisa dia kendalikan. Pergeseran psikologis ini memungkinkan pasien untuk hidup di masa kini, terlibat dalam kehidupan daripada sekadar menjalaninya dengan terus-menerus melawan gagasan kematian.
Rasa memiliki sosial dipupuk melalui koneksi emosional yang dibagikan. Ikatan keluarga yang kuat sangat terkait dengan kesejahteraan mental dan kualitas hidup pasien. Kita tahu, betapa dalam kita mencintai, itulah betapa dalam kita berduka. Banyak pasien takut tidak berada di sekitar untuk mencintai, membimbing, dan melindungi anak atau pasangan mereka. "Saya akan melukai mereka begitu dalam," pikir seorang pasien. Ini adalah kekhawatiran yang nyata dan menyakitkan. Komunikasi terbuka tentang penyakit, meski sulit, dapat meringankan beban emosional ini, sementara beberapa batasan dapat membantu pasien melindungi orang yang dicintai dari penderitaan. Ini memerlukan keseimbangan yang mendukung antara berkomunikasi dan melindungi, menghindari konspirasi keheningan sambil menghormati tingkat kesiapan keluarga yang berbeda.
Pasien sering menemukan diri mereka kembali bergumul ketika tantangan signifikan muncul. Proses yang berfluktuasi ini bisa sangat melelahkan secara emosional. Yang banyak dirasa membantu adalah mempertahankan sikap positif—bukan melalui penyangkalan, tetapi melalui pembingkaian ulang yang positif dan mengidentifikasi momen-momen bermakna atau rasa syukur.
Seperti yang dibagikan seorang pasien, "Meski saya tahu saya umumnya lebih lemah, saya bersyukur bahwa saya masih bisa membuat pilihan tentang opsi pengobatan dan bagaimana saya ingin hidup." Menormalkan pengalaman juga bisa menenangkan: "Beberapa hari saya baik-baik saja, dan hari-hari lain saya lelah dengan segalanya. Saya katakan pada diri sendiri tidak apa-apa—adalah normal untuk merasa seperti ini."
Harapan memainkan peran sentral dalam perjalanan seorang pasien. Berharap berarti tetap terbuka terhadap kemungkinan, terutama ketika memahami pengalaman seseorang menjadi sulit. Meski harapan berkembang seiring waktu, pasien dapat memilih bentuk harapan yang paling mendukung mereka. Ketika hasil tidak sesuai harapan atau harapan diberi label sebagai tidak realistis, kekecewaan bisa menyakitkan. Namun, bahkan ketika hasil tidak dapat diubah, pasien masih dapat memutuskan bagaimana harapan membantu mereka mengatasi. Seorang ibu, misalnya, menemukan harapan dalam keyakinan bahwa anak-anak dan suaminya akan tangguh dan menemukan kekuatan melalui kesulitan. Inilah harapan yang dia pilih untuk dipegang.
Saya ingat percakapan dengan seorang pasien yang berbagi, "Jika pengobatan ini tidak berhasil, ada kemungkinan pengobatan lain yang akan berhasil. Jika tidak ada, setidaknya saya sudah mencoba." Ketika ditanya dari mana dia mengambil keberanian dan kekuatannya, dia menjawab, "Dari diri saya sendiri!" Saya sangat tersentuh oleh tanggapannya; itu mengingatkan saya bahwa pasien itu sendiri seringkali adalah sumber kekuatan terbesar mereka.
Hidup yang baik dengan kanker adalah proses adaptasi yang berkelanjutan. Ini sangat personal, dan tidak ada cara yang benar atau salah untuk menavigasinya. Ini bukan tentang menerima segalanya, tetapi tentang belajar hidup berdampingan dengan ketidakpastian, mendefinisikan ulang kendali, dan menemukan jangkar makna, kenyamanan, dan koneksi di tengah ambiguitas yang berkelanjutan. Melalui proses ini, pasien membangun kembali hidup mereka dengan kekuatan dan ketahanan, memprioritaskan hidup yang bermakna secara personal daripada hidup yang didefinisikan oleh penyakit. Inilah yang telah diajarkan pasien-pasien saya.
Referensi
- American Cancer Society. (2025). Living with advanced and metastatic cancer: support and symptom management. Retrieved from https://www.cancer.org/cancer/supportive-care/advanced-cancer.html
- Arantzamendi, M., Garcia-Rueda, N., Carvajal, A., & Robinson, C. A. (2020). People with advanced cancer: the process of living well with awareness of dying. Qualitative Health Research, 30(8), 1143–1155. Retrieved from https://doi.org/10.1177/1049732318816298
- Bach, C. (2024). Living with Metastatic Cancer. Retrieved from https://www.oncolink.org/support/practical-and-emotional/coping-communication-concerns/living-with-metastatic-cancer?
- Greco, C. (2021). The uncertain presence: Experiences of living with metastatic breast cancer. Med Anthropol, 41(2), 129–140. Retrieved from https://doi.org/10.1080/01459740.2021.1941003
- Kamminga, N. C. W., Veldt, A. A. M. van der, Joosen, M. C. W., Joode, K. de, Joose, A., Grunhagen, D. J., … Lugtenberg, M. (2022). Experiences of resuming life after immunotherapy and associated survivorship care needs: a qualitative study among patients with metastatic melanoma. British Journal of Dermatology, 187(3), 381–391. Retrieved from https://doi.org/10.1111/bjd.21670
- National Cancer institute. (2024). Coping with advanced cancer long term. Retrieved from https://www.cancer.gov/about-cancer/coping/survivorship/advanced-cancer-long-term
- Taylor, N. (2024, February). Riding the emotional roller coaster. CancerLifeline. Retrieved from https://cancerlifeline.org/living-with-cancer-riding-the-emotionalroller-coaster/
- Ungar, M. (2016, July). Mom with Metastatic Cancer Talks about Resilience. Psychology Today. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/nurturing-resilience/201607/mom-metastatic-cancer-talks-about-resilience
- Winstead, E. (2021). From Scan to Scan: The Challenges of Living with Metastatic Cancer. Retrieved from https://www.cancer.gov/news-events/cancer-currentsblog/2021/living-with-metastatic-cancer
| DIPOSTING DI | Kesehatan Psikologis |
| DITERBITKAN | 01 Februari 2026 |
