02 JANUARI 2019

Petugas Hubungan Tamu Ann Ton - Kisah Bersama Pasien Kanker


Pandangan hidup yang baru

Tersentuh oleh ketabahan para pasiennya, Petugas Hubungan Tamu Ann Ton mencoba untuk berbagi kekuatan, optimisme, dan harapan dengan mereka yang dibantunya.

Ketika ada sepasang suami-istri berusia paruh baya tiba di rumah sakit, Petugas Hubungan Tamu Ann Ton terpana melihat perilaku sang suami terhadap istrinya, yang sedang menjalani pengobatan untuk kanker yang dideritanya.

Ia adalah seorang pria yang tidak banyak bicara, namun Ann dapat melihat betapa besar cintanya kepada istrinya hanya dengan melihat caranya memandang sang istri, bagaimana ia menggenggam tangan istrinya dan tersenyum kepadanya.

Pria tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya di sisi istrinya, memastikan bahwa ia memperoleh perawatan terbaik. Setiap kali sang istri merasa khawatir, ia akan menjawab: “Jangan khawatir, sayangku, biarkan aku saja yang khawatir. Kesehatanmu adalah hal yang paling penting di atas segalanya. Kami akan selalu berada di sini untukmu.”

Perkataan dan perbuatan pria tersebut meninggalkan kesan yang mendalam pada Ann yang berusia 27 tahun. “Pikiran bahwa orang terkasih akan selalu ada di sana untuk Anda pada salah satu saat dimana Anda sangat membutuhkannya memberikan saya rasa hangat akan optimisme dalam hidup,” ujarnya.

Kejadian tersebut, beserta banyak pasien yang ia bantu, mengubah pandangannya tentang hidup. “Melihatnya begitu banyaknya rasa sakit dan kehilangan memberikan saya pandangan yang berbeda mengenai bagaimana saya harus mengatur prioritas saya,” ujarnya.

“Sebelumnya, saya selalu khawatir akan hal-hal yang berada di luar kendali saya, seperti misalnya masa depan dan hubungan. Kini, saya menyadari bahwa tidak ada yang lebih penting daripada hubungan yang saya miliki dengan orang-orang yang saya kasihi. Saya menelepon orang tua setiap hari untuk mendengar suara mereka dan memberi tahu bahwa saya mencintai mereka.”

Ann, yang berasal dari Vietnam, juga melaksanakan hal yang dipelajarinya mengenai hidup ini dalam pekerjaannya. Meskipun sebagai seorang Petugas Hubungan Tamu perannya adalah untuk mendukung pasien yang datang ke Parkway Cancer Centre (PCC) untuk berobat, khususnya mereka yang datang dari Vietnam, Ann berjanji untuk memberikan lebih dalam hal menenangkan dan menguatkan dalam interaksinya dengan mereka.

Baik itu mencoba menangani kebutuhan fisik dan administratif mereka, menyiapkan mereka untuk pengobatan di Vietnam, menerjemahkan untuk mereka, atau membantu mereka menghadapi masa selama tinggal di Singapura, Ann melakukan yang sebaik yang ia mampu untuk meyakinkan mereka bahwa is selalu ada dan mendukung mereka.

“Tidaklah mudah bagi pasien untuk menerima diagnosisnya, oleh sebab itu saya berusaha untuk berada di sana saat suasana hati mereka sedang menurun,” ujarnya. “Terkadang, saya tidak perlu banyak bicara, saya hanya memberi tahu mereka bahwa kami selalu ada untuk mereka.”

Dan tidak perduli jam berapa pun, Ann selalu bersedia menerima panggilan telepon atau meluangkan waktu dengan seorang pasien, bahkan meskipun telah melampaui jam kerjanya atau saat akhir pekan. “Membantu pasien selalu menjadi prioritas nomor satu bagi saya, oleh sebab itu saya selalu berusaha untuk ada bagi mereka,” ujarnya.

Ironisnya, Ann tidak pernah berpikir bahwa ia akan melakukan pekerjaan yang sarat makna seperti ini saat ia lulus dengan menyandang gelar Sarjana Sains dalam bidang Manajemen Farmasi pada tahun 2013.

Tertarik dengan iklan lowongan kerja PCC yang tampaknya sesuai dengan pengalaman serta harapan karirnya, ia bergabung dengan PCC pada bulan November tahun 2013. Itu merupakan “hal yang mengubah hidupnya”, ujar Ann.

Sebagai orang Vietnam, Ann merasa bahwa ia dapat terhubung dengan pasien dari tanah airnya dan memahami kekhawatiran mereka. Ia mengatakan bahwa banyak yang khawatir akan efek samping pengobatan, apa yang harus mereka lakukan, dan akan seberapa efektifkah pengobatan yang mereka jalani. Orang lain mencari tahu mengenai berbagai alternatif pengobatan atau ingin tahu apa yang boleh dan tidak boleh mereka makan.

“Kami berusaha melakukan yang terbaik untuk meyakinkan para pasien kami bahwa pengobatan yang mereka jalani sebanding dengan risikonya dan tidak ada yang lebih penting daripada kesehatan mereka,” ujar Ann. “Kami memotivasi pasien untuk memasuki kekuatan batin mereka dan mengatasi efek samping pengobatannya, satu demi satu.”

Ann juga berusaha membuat para pasien dan keluarganya mereka nyaman selama tinggal di Singapura. Ini berarti ia berusaha merekomendasikan tempat untuk tinggal, makanan untuk dimakan, dan kegiatan yang dapat dilakukan – apa saja yang dapat membantu menghibur mereka. “Ketika pasien menyelesaikan pengobatannya, seringkali kami mengejutkan mereka dengan memberikan hadiah kecil untuk merayakan kemenangannya,” ujarnya. “Atau kami mengadakan pesta kecil bagi pasien untuk merayakan ulang tahunnya bersama dengan orang-orang yang dikasihinya.”

Meskipun saat-saat seperti itu sangat menggembirakan baginya, Ann mengakui bahwa ada saat-saat dimana ia harus menguatkan dirinya sendiri untuk membantu pasien menghadapi kabar buruk atau hasil yang lebih buruk daripada yang diharapkan, dan menenangkan serta memberikan dukungan yang mereka butuhkan.

“Saya harus terus-menerus mengingatkan diri saya agar tidak membiarkan perasaan saya mempengaruhi pasien secara negatif,” ujarnya. “Tidaklah adil bagi para pasien saya bila saya tidak dapat menangani perasaan saya sendiri dengan baik. Jadi, saya belajar untuk mengendalikan emosi saya.”

Ia menambahkan, hal itu menjadi semakin sulit ketika pasien kalah dalam pertempuran melawan kanker. “Tidak pernah mudah untuk menghadapi semua emosi berat yang dirasakan saat seseorang meninggal,” ujarnya. “Tidak banyak yang dapat Anda lakukan dalam situasi seperti itu, selain memastikan bahwa Anda telah melakukan yang terbaik untuk membantu mereka. Ada pasien-pasien yang telah lama saya kenal, dan kami telah melalui banyak hal bersama-sama. Saya masih mengingat dan merindukan mereka.”

Itulah sebabnya Ann percaya bahwa kita harus menghabiskan waktu yang berkualitas dengan orang-orang. “Tidak ada orang yang akan hidup selamanya dan semua orang pada akhirnya harus menghadapi lingkaran kehidupan,” ujarnya. “Menghabiskan lebih banyak waktu yang berkualitas satu sama lain akan membuat hidup kita lebih bermakna.”

Agar dapat tetap bertahan, Ann memastikan untuk menjaga keseimbangan yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, yang mana hal ini merupakan “suatu keharusan” baginya. “Saya tidak akan dapat memberikan yang terbaik dan sikap positif kepada para pasien bila saya sendiri kelelahan,” ujarnya.

Selain menjalani diet yang sehat, Ann menjaga kesehatannya dengan latihan fisik, berenang dan mempelajari berbagai olah raga dan kegiatan baru, seperti misalnya tenis meja dan panjat tebing. Terkadang, untuk melepas lelah di akhir hari, ia memanjakan dirinya dengan “me-time” sendirian – dengan sebuah buku wisata favoritnya dan kudapan “untuk menemaninya”. Ia “belum menikah, namun semoga akan menikah dalam waktu dekat”, imbuhnya seraya tertawa.

Jadi, apa yang membuatnya tetap bertahan?

“Saya percaya bahwa saya membawa perubahan yang positif dalam kehidupan orang lain melalui pekerjaan saya,” ujar Ann, yang seringkali mendapat motivasi dari para pasien sendiri. “Pasien kanker adalah orang yang paling berani. Mereka berjuang demi hidupnya dalam situasi yang penuh tekanan, dan membutuhkan semua bantuan yang dapat mereka peroleh. Saya ingin ada di sana untuk mereka.”

Ann akan selalu mengingat salah seorang pasiennya, yaitu seorang pria muda yang menderita suatu bentuk kanker yang agresif dan membutuhkan pengobatan yang kuat yang menimbulkan nyeri yang terus-menerus, kelelahan, dan efek samping lainnya.

Meski demikian, ia tidak pernah putus asa, kenang Ann. “Suatu waktu ia mengirimkan pesan kepada saya, ‘Suster Ann, saya masih memiliki beberapa proyek yang harus saya selesaikan. Bila proyek-proyek tersebut berhasil, saya akan memiliki masa depan yang gemilang di hadapan saya. Saya membutuhkan bantuan Anda untuk melakukannya.”

Pesan dan kisah seperti itu membuat pekerjaannya semakin bermakna dan memotivasi dirinya untuk mengatasi tantangan pribadinya sendiri dalam pekerjaan, ujar Ann. “Tidak banyak yang dapat saya lakukan untuk pria muda tersebut, namun saya pikir percakapan harian kami dan kehadiran saya banyak membantunya dalam melalui perjalanannya yang sulit.”

Saran apakah yang dapat ia berikan bagi para pasien? “Jangan pernah putus asa. Hidup tidaklah menentu dan Anda tidak pernah tahu apa yang terbentang di depan Anda. Jadi, kuatlah dan habiskan semua waktu yang Anda miliki dengan orang-orang yang Anda kasihi.”

Kok Bee Eng

Label berpikir positif saat terkena kanker, mengelola emosi, pengalaman dengan pasien kanker