Berita & Artikel
Perjalanan Penyintas Kanker Payudara: Pemulihan melalui Kelompok Dukungan

Bagi Choon Mei, bertahan dari kanker hanyalah awal dari kehidupan baru yang penuh kepedulian dan ketulusan.
Ketika seorang sesama penyintas pernah mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidupnya, Choon Mei mendengarkan dengan penuh empati dan memberikan harapan. “Saya membantunya melihat bahwa selalu ada cahaya di ujung terowongan,” kenangnya.
Itu adalah tugas pertamanya sebagai pendamping penyintas, dan momen tersebut meneguhkan jalan yang ia pilih. Setelah dua kali menghadapi diagnosis kanker, Choon Mei tahu bahwa ia ingin memberi kembali. Kini, ia aktif menjadi relawan dalam berbagai kegiatan pendukung pasien kanker, serta menemukan kekuatan dan makna hidup dengan membantu orang lain menjalani perjalanan mereka masing-masing.
MEMILIH UNTUK TERUS MELANGKAH
Perjalanan Choon Mei menjadi relawan di organisasi pendukung pasien kanker berawal dari pengalamannya sendiri melawan kanker. Saat menjalani pemeriksaan kesehatan rutin pada tahun 2016, ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah dalam sekejap. Di akhir usia 30-an, ia sebenarnya masih berada di bawah usia yang direkomendasikan untuk menjalani mamografi. Namun, pemeriksaan ultrasonografi menemukan sesuatu yang tidak biasa. Pemeriksaan lanjutan pun memastikan temuan tersebut: ia menderita kanker payudara.
“Meskipun masih Stadium 0, saya sangat terkejut,” kenangnya. Jika diagnosis pertama terasa mengejutkan, diagnosis kedua setahun kemudian benar-benar menghancurkan. Pada tahun 2017, kanker ditemukan di sisi payudara yang lain. “Saya benar-benar terpukul,” tuturnya. “Menerima diagnosis kedua sangat menakutkan. Semua orang terkejut melihat reaksi saya, bahkan tim medis saya.”
Meski demikian, Choon Mei tahu ia harus terus melangkah.
Alih-alih menarik diri dari pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, Choon Mei memutuskan untuk tetap bekerja selama menjalani pengobatan. “Saya berpikir, jika saya bisa fokus pada hal-hal positif, saya bisa terus maju,” ujarnya. Dengan dukungan dari perusahaannya, ia mengatur jadwal radioterapi dengan cermat, memilih sesi di akhir hari agar tetap dapat bekerja lebih lama sebelum berangkat ke rumah sakit.
Pengalaman tersebut juga menanamkan sebuah tekad. Ketika rangkaian pengobatan berakhir, ia menyadari bahwa ia ingin menyalurkan energinya untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
DARI RELAWAN OLAHRAGA KE DUKUNGAN PASIEN KANKER
Sebagai mantan instruktur Aikido, Choon Mei telah lama aktif dalam kegiatan kerelawanan, khususnya di bidang olahraga. Ia terbiasa memberi kembali melalui kegiatan melatih dan aktivitas kemasyarakatan, serta pernah menjadi relawan dalam ajang berskala besar seperti SEA Games dan ASEAN Para Games pada tahun 2015.
“Setelah melalui perjalanan saya sendiri, saya menyadari bahwa saya masih bisa terhubung dengan orang-orang terdekat. Namun, hubungan dengan sesama penyintas terasa berbeda,” jelasnya. “Mereka benar-benar memahami perjalanan kanker, dan saat kami berbagi, ada rasa nyaman dan kekuatan yang mendalam.”
Tidak yakin harus memulai dari mana, Choon Mei mengenang, “Saya menulis ke berbagai kelompok pendukung kanker untuk mencari tahu bagaimana saya bisa berkontribusi!” Dari situlah ia menjadi bagian dari angkatan perintis relawan CanHOPE dan mulai terlibat dalam berbagai kegiatan melalui Breast Cancer Foundation, Singapore Cancer Society, Children’s Cancer Foundation, serta National Cancer Centre Singapore.
“Ada kepuasan yang sangat mendalam ketika saya bisa terhubung dan membantu orang lain. Saya merasa sangat diberkati,” ungkapnya. “Pernah suatu kali, setelah sesi kelompok dukungan, salah satu penyintas yang saya dampingi menghampiri dan mengucapkan terima kasih. Bagi saya, itu sangat bermakna.”
MENEMUKAN PEMULIHAN MELALUI MUSIK
Setiap hari Sabtu pertama setiap bulan, Choon Mei menjadi salah satu pemimpin kelompok minat ukulele bagi pasien kanker, para penyintas, dan para pendamping. Ia juga meluangkan beberapa jam pada Sabtu selang-seling untuk membimbing sesi latihan tambahan bersama kelompok tersebut. “Belajar bermain piano selalu ada dalam daftar impian saya. Sebagai pemula dalam dunia musik, saya memutuskan untuk memulai dengan ukulele selama masa pemulihan, karena ini merupakan salah satu alat musik yang paling mudah dipelajari,” jelasnya.
Melalui kelompok ini, ia tidak hanya belajar bermusik, tetapi juga menemukan ruang untuk kebahagiaan, ekspresi diri, dan kebersamaan. Kini, Choon Mei bahkan tampil dalam berbagai acara terkait kanker bersama para penyintas lainnya.
BERBAGI KEPEDULIAN, MERAIH KEKUATAN
Kini, Choon Mei aktif menjadi relawan dalam berbagai kegiatan pendukung pasien kanker, termasuk Program Dukungan CanHOPE. Ia mendampingi pasien kanker, memfasilitasi kelompok dukungan, serta bekerja bersama para konselor untuk memberikan dukungan emosional.
Pendekatannya sederhana namun penuh kesadaran: memiliki kepedulian, meluangkan waktu, dan mengelolanya dengan baik. Ia menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, dan kegiatan kerelawanan dengan memprioritaskan hal-hal yang paling penting. “Setiap kali menjalani sesi kerelawanan, saya merasa segar kembali,” ujarnya. “Terkadang saya belajar hal baru. Terkadang saya terinspirasi oleh kisah orang lain.”
Baginya, memberi kembali bukan hanya bentuk kedermawanan, tetapi juga proses pemulihan. Melihat keberanian dan ketangguhan orang lain justru menguatkan tekadnya sendiri. “Rayakan hidup. Jalani hidup dengan lebih sederhana,” katanya.
PERSPEKTIF BARU
Kanker tidak hanya meninggalkan luka bagi Choon Mei, tetapi juga kejernihan dalam memandang hidup. Ia tidak lagi mempermasalahkan hal-hal kecil. Prinsip hidupnya kini sederhana: Tarik Napas, Terima, Tertawa.
Ia menjelaskan, “Tarik napas -karena kita perlu berhenti sejenak dan menenangkan diri. Terima -karena kita harus menerima apa pun yang dihadirkan kehidupan. Tertawa -karena kebahagiaan membuat perjalanan terasa lebih ringan.”
Delapan tahun setelah diagnosis pertamanya, Choon Mei tidak lagi didefinisikan oleh kanker, melainkan oleh kehidupan yang ia pilih untuk bangun setelahnya: kehidupan yang dipenuhi koneksi, musik, dan pengabdian. Ia menjadi pengingat bahwa meskipun kanker dapat mengubah jalan hidup, penyakit ini tidak menghapus kemungkinan akan harapan, pertumbuhan, dan kebahagiaan.
“Ada cahaya di ujung terowongan,” ujarnya. “Dan terkadang, kitalah yang bisa menjadi cahaya itu bagi orang lain.”
“Setelah melalui perjalanan saya sendiri, saya menyadari bahwa saya tetap bisa terhubung dengan orang-orang terdekat. Namun, hubungan dengan sesama penyintas terasa berbeda…. Mereka benar-benar memahami perjalanan kanker, dan saat kami saling berbagi, muncul rasa nyaman dan kekuatan yang mendalam.”
Choon Mei
| DIPOSTING DI | Dekat dan Pribadi |
| BACA SELENGKAPNYA TENTANG | Kanker Payudara |
| DITERBITKAN | 01 Desember 2025 |
