Terapi wicara untuk kanker kepala & leher


Terapis wicara Tan Hui Yong dari Mount Elizabeth Rehabilitation Centre berbicara mengenai manfaat terapi wicara bagi pasien kanker kepala dan leher.

Kanker kepala dan leher beserta pengobatannya seringkali menyebabkan perubahan pada suara pasien, kemampuannya untuk berbicara dan menelan, dimana hal ini mempengaruhi kualitas hidup pasien dan kemampuannya untuk berfungsi di masyarakat. Meski demikian, terapis wicara dapat membantu pasien mengatasi tantangan-tantangan ini.

Apakah yang dimaksud dengan terapis wicara?

Terapis wicara adalah tenaga pendukung kesehatan yang terlibat dalam penatalaksanaan pasien kanker kepala dan leher untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan fungsi suara, bicara, dan menelan.

Pasien kanker kepala dan leher biasanya diobati dengan operasi, terapi radiasi, kemoterapi, atau suatu kombinasi dari beberapa metode pengobatan ini. Pasien dengan kanker kepala dan leher, biasanya diobati dengan cara operasi,radio terapi,kemoterapi,atau kombinasi dari 3 ini. Tiap modalitas pengobatan dapat memberikan dampak yang negatif terhadap kemampuan menelan dan berkomunikasi.

Terapis wicara akan bekerja sama dengan pasien-pasien ini sebelum, selama, dan setelah pengobatan mereka untuk menjaga agar kemampuan berkomunikasi dan menelan tetap berfungsi senormal mungkin.

Komunikasi

Pengobatan kanker kepala dan leher dapat menyebabkan kesulitan berbicara seperti berkurangnya kejelasan dalam berbicara, suara hipernasal atau bicara dengan suara yang pelan. Pada kasus dimana kotak suara diangkat (laringektomi), pasien kehilangan kemampuan untuk mengeluarkan suara.

Bila kesulitan berkomunikasi dibiarkan tidak teratasi, pasien dapat menjadi depresi atau mengasingkan diri dari situasi sosial.

Terapis wicara akan bekerja sama dengan pasien untuk memperbaiki ketepatan berbicara mereka setelah pengobatan. Pada saat mereka tidak dapat berbicara secara verbal untuk berkomunikasi, maka metode alternatif seperti alat bantu komunikasi eskternal dapat digunakan.

Pada pasien yang pita suaranya diangkat, terapis wicara akan bekerja sama dengan mereka untuk mencari metode komunikasi yang paling sesuai. Metode tersebut dapat meliputi:

(a) berbicara melalui kerongkongan: berbicara dengan memaksakan udara masuk ke dalam saluran makanan

(b) pangkal tenggorok buatan: menggunakan alat eksternal seperti misalnya elektolaring untuk menghasilkan suara

(c) prostesis trakeoesofagus/tracheoesophageal prosthesis (TEP) – berbicara melalui suatu katup satu arah yang kecil yang melalukan udara dari batang tenggorok ke tenggorokan

Menelan

Disfagia (kesulitan makan dan minum) merupakan hal yang umum terjadi setelah pengobatan kanker kepala dan leher. Otot-otot yang digunakan untuk menelan dapat menjadi lemah selama kemoradioterapi dan jaringan parut akibat radiasi dapat membatasi kemampuan pasien untuk bergerak secara memadai. Masalah-masalah ini dapat menyebabkan timbulnya gejala seperti membutuhkan waktu yang lebih lama untuk makan, kesulitan untuk menelan makanan kering , makanan tersangkut di kerongkongan setelah menelan, makanan atau cairan keluar dari hidung, batuk atau tersedak ketika sedang atau setelah menelan.

Bila disfagia dibiarkan tidak ditangani, ia dapat menyebabkan malnutrisi dan dehidrasi. Pada kasus yang serius, disfagia juga dapat menyebabkan pneumonia dan penyakit paru kronis. Di samping itu, pasien dapat kehilangan minat untuk makan dan minum dan mengasingkan dirinya dari situasi sosial.

Terapis wicara akan mengevaluasi kemampuan menelan yang dimiliki oleh pasien dan membantu mereka bila ada kesulitan yang dialami. Dapat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan menelan dengan videofl uoroskopi/ videofluoroscopic swallow (VFS) atau pemeriksaan menelan dengan endoskopi serat optik/fi bre-optic endoscopic evaluation of swallowing (FEES) untuk mengkaji fase menelan oral dan faringeal.

Setelah evaluasi, terapis wicara akan merekomendasikan perubahan yang perlu dilakukan ketika menelan.

Perubahan ini dapat meliputi perubahan postur, perubahan diet atau perubahan cara menelan. Bila pasien tidak dapat menelan dengan aman walaupun telah menjalankan strategi rehabilitasi, maka time medis akan mendiskusikan dengannya mengenai metode makan alternatif.

Terapis wicara juga dapat bekerja sama dengan pasien untuk membuat suatu program rehabilitasi bagi otot-otot menelan pasien tersebut.

Mengapa terapi wicara dan menelan itu penting?

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pasien yang menerima terapi wicara dan menelan aktif sebelum pengobatan dengan radiasi, memperoleh hasil yang lebih baik dalam memelihara struktur otot dan fungsi menelan.

Selain itu, fi brositas jaringan dapat tetap ada bertahun-tahun setelah pengobatan dengan radioterapi, sehingga mempengaruhi kemampuan pasien untuk berbicara dengan jelas dan menelan dengan aman. Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk terus melakukan latihan untuk mencegah atau memperkecil efek samping.

Kapankah sebaiknya terapi wicara dan terapi menelan dimulai?

Pasien harus mempertimbangkan untuk memulai terapi sebelum pengobatan dan untuk melanjutkannya, selama dan setelah pengobatan.

Penelitian menunjukkan bahwa terapi wicara dan menelan yang telah dimulai sebelum pengobatan kanker, membantu dalam memelihara fungsi otot, sehingga memperbaiki kualitas hidup pasca pengobatan.  

DIPOSTING DI Rehabilitasi
Label efek samping yang umum dari pengobatan kanker, infeksi paru, kanker kepala & leher (THT), kualitas hidup pasien kanker, pusat rehabilitasi mount elizabeth, terapi kemo-radiasi, terapi wicara
DITERBITKAN 03 SEPTEMBER 2016