04 JUNI 2016

Satu keluarga yang terkoyak karena penyakit

Ditulis oleh: Dr Ang Peng Tiam

Kematian adalah peristiwa yang tak mungkin dihindari bagi setiap makhluk hidup. Pekan ini, takdir menyampaikanku pada perjalanan sebuah keluarga pasien yang mengidap penyakit kritis. Siew Ching (bukan nama sebenarnya), 66, mengidap kanker payudara Stadium 4. Kendati awalnya ia merespon kemoterapi dengan baik, namun ternyata penyakitnya berubah menjadi semakin buruk ketika diketahui kankernya telah menyebar ke otak. Ia masih lajang namun ia berasal dari keluarga dengan banyak jumlah saudara kandungnya. Selama dua tahun saya merawatnya, ia telah didampingi oleh saudari kandungnya yang paling muda atau kakak laki-laki tertuanya setiap kali datang ke klinik. Mereka akan diajak ikut serta dalam diskusi dan proses pengambilan keputusan, dan lebih signifi kan lagi, mereka turut hadir disana untuk mendukung dan menyemangati saudari mereka untuk terus berjuang. Mereka sangat sayang dan peduli padanya. Selama rawat inap baru-baru ini, saya sering melihat salah satu atau kedua saudaranya di dalam kamar inapnya saat saya berkunjung kesana pada pukul 7 pagi. Itu berarti bahwa mereka menginap disana untuk menemani saudarinya tersebut atau mereka bergegas sejak pagi sekali dari rumah untuk menuju ke rumah sakit agar bisa menemui saya di kunjungan pagi saya ke bangsal. Biasanya mereka akan memberitahu hasil observasi mereka kepada saya dan ingin mendapatkan pula informasi terbaru tentang perencanaan pengobatan. Awalnya semua terlihat sempurna. Namun kondisi Siew Ching secara medis menurun sedikit demi sedikit. Beberapa hari kemudian, bicaranya semakin cadel dan akhirnya tak dapat dimengerti. Lalu ia pun koma. Selain dua pendamping utama yang saya telah familiar dengan mereka, anggota keluarga lainnya mulai memberikan masukan apa yang mereka anggap perlu dan tidak perlu dilakukan. Namun demikian, ini bukan berarti keputusan langsung. Otak adalah bagian dari tubuh yang kerap berfungsi sebagai ‘sebuah situs suci’ karena banyak obat-obatan kemoterapi tidak dapat menembus selaput yang menutupi permukaan otak dan sumsum tulang belakang. Selaput yang disebut dengan meninges ini, berfungsi sebagai pembatas alami yang melindungi otak. Namun, membran tersebut juga berfungsi sebagai “penyaring” dan dapat mencegah banyak obat menuju ke otak. Inilah mengapa efektivitas kemoterapi pada kanker yang telah menyebar ke otak umumnya rendah ketimbang pada bagian tubuh lainnya. Pengobatan yang dianjurkan bagi pasien dengan kanker yang telah menyebar ke otak adalah terapi radiasi. Pada kebanyakan kasus dengan beberapa tumor yang menyebar ke otak, seluruh bagian otak diobati dengan 10 sesi “penyinaran seluruh otak”. Cara ini kerap berhasil menyusutkan penyakit yang ada di otak, dan mengurangi gejala yang diakibatkan dari tumor yang memenuhi celah. Sayangnya, pengobatan radiasi Siew Ching harus ditinggalkan karena kondisi fi siknya secara keseluruhan memburuk dan ia harus segera dibawa ke rumah sakit untuk perawatan yang lebih mendukungnya. Keluarganya pun terbelah menjadi beberapa kubu. Sebagian menginginkan dirinya tetap di rumah sakit agar ia bisa mendapatkan perawatan yang memadai secara maksimal. Sedangkan sebagian keluarganya yang lain ingin agar dia dirawat di rumah saja, sedangkan kubu lainnya menghendaki agar Siew dibawa ke panti untuk perawatan akhir-hidup Siew. Saat saya merasa ada ‘aroma’ konfl ik dan ketidaksetujuan di dalam keluarga tersebut, saya mencoba berpendapat bahwa akan lebih baik jika kita semua duduk bersama dan mencoba memahami situasi yang ada serta membuat permufakatan mengenai bagaimana memproses pasien ini. Rapat keluarga ini ternyata tidak mudah. Sangat penting untuk memastikan setiap anggota keluarga paham bagaimana status terkini dari pasien, pilihan pengobatan kemungkinan prognosa. Semua yang hadir saja harus mendapatkan kesempatan mengungkapkan pendapat mereka. Dalam kasus Siew Ching, kakak laki-laki tertuanya sangat ingin ia dirawat di rumah sakit dan melakukan segala hal yang mungkin untuk sang adik.namun, saudaranya yang lain serta keponakannya (yang mewakili saudara Siew Ching yang lain) sangat jelas mereka tidak menginginkan adanya pengobatan aktif apapun lagi. Dengan berat hati, sang kakak tertua pun menyerah pada dua anggota keluarga tersebut. Musyawarah keluarga itu akhirnya menyepakati bahwa pengobatan aktif tidak dilanjutkan dan Siew Ching akan segera dikirim ke panti secepatnya untuk perawatan akhirhidupnya. Karena ia kemudian sedalam dalam masa pemulihan dari herpes zoster, maka panti pun tidak siap untuk menerimanya sampai ia benarbenar sembuh dari infeksi itu. Ini adalah tindakan pencegahan terhadap tersebarnya infeksi tersebut ke pasien lain. Saya tetap melanjutkan menjenguknya setiap pagi. Namun, yang membuat saya sedih, ia sekarang benar-benar sendiri di ruangan itu. Semua keluarga yang tadinya selalu disana sekarang tiada lagi. Saya bertanya kepada para suster dan mereka pun menyadari bahwa kunjungan keluarganya sekarang menjadi jarang dan singkat. Hari-harinya kini begitu sepi. Kematian sepertinya akan segera datang menjemputnya. Sementara anggota keluarganya bersatu dalam menginginkan yang terbaik untuk dirinya, ketidaksetujuan pahit dan keyakinan mereka yang mereka pegang kuat-kuat tentang bagaimana cara merawatnya telah mengubah dinamika dan ikatan keluarga. Dengan kepergiannya, semoga akan segera ada perdamaian. Oleh Dr Ang Peng Tiam Artikel ini pertama kali ditampilkan di The Straits Times pada September 2015
DIPOSTING DI Caregiving, Perawatan Kanker
Label kanker payudara, kanker stadium 4, kisah dokter spesialis kanker
Baca Selengkapnya Tentang Kanker Payudara