09 JANUARI 2019

Pilihan Pengobatan Kanker Yang Lebih Baik di Tahun 2018

Disumbangkan oleh: Dr Ang Peng Tiam

Mengobati pasien, bukan penyakitnya

Dokter spesialis onkologi kini dapat mempertimbangkan kualitas hidup berkat adanya berbagai pilihan pengobatan yang lebih baik.

Dengan adanya berbagai pilihan operasi yang baru, obat-obat kemotrapi yang lebih baik, radioterapi yang terfokus dan akurat, serta rejimen pengobatan yang baru, para dokter dapat memastikan bahwa dalam memerangi kanker, mereka juga dapat mempertahankan kualitas hidup pasien-pasiennya.

“Kini, kami bukan mengobati penyakit, melainkan mengobat pasien,” ujar Dr Ang Peng Tiam dalam ceramahnya mengenai perubahan yang terjadi dalam pengobatan kanker di Singapura dalam tiga dekade terakhir.

Ia memberikan ceramah ini dalam sebuah seminar yang bertajuk “Understanding Cancer and Beyond”, yang diadakan pada tahun ini dan mencakup topik-topik seperti uji molekuler tingkat lanjut untuk skrining kanker dan penggunaan imunoterapi untuk tumor padat dan kanker darah.

Ia mengambil contoh kanker kotak suara. Sebelumnya, kotak suara harus dibuang seluruhnya. “Kini Anda bahkan tidak perlu menjalani operasi ketika Anda terkena kanker kotak suara,” ujarnya.

Dr Ang Peng Tiam menggunakan sepupunya, yang merupakan seorang pengacara, sebagai contoh, dimana sepupunya ini didiagnosis menderita kanker pada dasar mulut lima tahun yang lalu. Dokter bedah THT (telingan, hidung, dan tenggorokan) yang dijumpainya menyarankan untuk melakukan operasi. Sebagai seorang pengacara, ini akan sangat mempengaruhi kemampuannya untuk bekerja. Oleh sebab itu, Dr Ang melakukan kemoterapi kepada sepupunya tersebut. Setelah pengobatan selesai, seluruh tumornya hilang. “Kami menindaklanjuti dengan pengobatan radiasi, dan ia sembuh total.”

Pasien lainnya yang ia tangani adalah seorang negosiator, yang menderita kanker lidah yang telah menyebar ke kelenjar getah bening. Pengobatan yang diberikan adalah kombinasi antara kemoterapi dan radioterapi, yang membasmi penyakit tersebut. Tidak perlu membuang sedikitpun dari bagian lidahnya, ujar Dr Ang.

Ini dapat terjadi karena para dokter kini memahami kekuatan dan kelemahan dari berbagai rejimen pengobatan yang berbeda terhadap jenis kanker tertentu. Kemoterapi dapat digunakan untuk memperkecil tumor, kemudian radioterapi terfokus digunakan untuk tumor yang masih tersisa. Cara ini membuat operasi tidak perlu dilakukan.

“Ini semua hanya mungkin terjadi karena obat-obatan yang tersedia saat ini jauh lebih baik daripada di masa lampau. Obat-obatan tersebut tidak hanya sangat efektif, namun mereka juga memiliki toksisitas yang rendah.”

Dan bagi para pasien yang tidak mau menjalani kemoterapi, juga tersedia berbagai alternatif. Di masa lampau, kanker paru diobati sebagian besar dengan kemoterapi. Namun, kini, para dokter memahami bahwa ada berbagai jenis kanker paru yang berbeda, dan untuk satu jenis, yaitu adenokarsinoma, kemoterapi bahkan tidak harus menjadi pilihan pertama.

Pengembangan zat terarah yang memburu mutasi yang spesifik telah memberikan lebih banyak pilihan bagi para dokter, ujarnya. Pilihan-pilihan ini juga memiliki efek samping yang lebih ringan bila dibandingkan dengan kemoterapi.

“Anda mungkin akan mengalami sedikit gangguan pada kulit, namun selain daripada hal tersebut, kualitas hidup Anda sangat baik, bila dibandingkan dengan para pasien yang menjalani kemoterapi,” ujarnya.

Pengobatan yang baru juga memberikan harapan bagi pasien yang menderita kanker stadium akhir. Ia mengambil contoh seorang wanita yang pada tahun 2015 didiagnosis menderita kanker usus yang telah menyebar ke kelenjar getah bening di leher.

Ia ingin diobati secara agresif, sehingga setelah dioperasi, ia menjalani kemoterapi, dan kemudian radioterapi. Ia masih hidup saat ini dan ia kini bepergian ke seluruh dunia. “Ia berkata, ‘Saya tidak tahu berapa banyak waktu yang saya miliki, jadi saya harus menikmati waktu yang ada.’”

Penemuan obat-obat imunoterapi juga telah membuat perbedaan.

Dr Ang Peng Tiam menggambarkan seorang pasien yang menderita limfoma Hodgkin yang telah diobati dengan kemoterapi. “Setiap kali saya memberikan kemoterapi, kankernya hilang. Setiap kali saya menghentikan kemoterapi, kankernya kembali lagi.” Namun, dengan imunoterapi, tumornya hilang dan tidak kembali lagi.

Selain pengobatan yang lebih baik, terdapat pula beberapa kemajuan yang signifikan dalam hal deteksi. Kemajuan dalam bidang diagnostik telah membantu para dokter untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai kanker. “Kini dokter spesialis patologi memainkan peran penting yang dapat memberi tahu kami mengenai genetika kanker dan pengobatan yang sesuai.”

Dan bila sebelumnya dibutuhkan jaringan untuk melakukan biopsi, kini tidak selalu demikian. “Sekarang, Anda bahkan tidak membutuhkan jaringan, Anda hanya membutuhkan sampel saja.”

Akses yang mudah terhadap pemindaian PET-CT juga telah membantu diagnosis, untuk melihat seberapa jauh kanker telah menyebar. Hal ini penting untuk menentukan bagaimana cara mengobati seorang pasien. Sebagai contoh, dalam kasus kanker paru, operasi digunakan pada stadium dini namun tidak pada stadium lanjut, oleh sebab itu penting untuk mengetahui apakah kankernya telah menyebar.

Di masa lampau, sangat sulit meskipun hanya untuk menjadwalkan pemindaian CT karena jumlah alat yang sangat sedikit di Singapura. Saat ini, pemindaian PET-CT tersedia di banyak rumah sakit di Singapura.

Berkat semua kemajuan ini, situasi yang dihadapi para dokter dan pasien saat ini sangat berbeda dari 30 tahun yang lalu. Ia mengatakan: “Onkologi telah berubah dari sebelumnya, di masa lampau, suatu penyakit yang ‘pasti mati’, menjadi penyakit yang memiliki harapan.”

Jimmy Yap

DIPOSTING DI Perawatan Kanker
Label cara baru untuk mengobati kanker, imunoterapi, kemoterapi, kualitas hidup pasien kanker, pembengkakan kelenjar getah bening / kelenjar getah bening yang membengkak, terobosan terbaru dalam pengobatan kanker