Pasien yang menolak untuk menyerah

Ditulis oleh: Dr Ang Peng Tiam

Ketika kami bertemu pertama kali pada bulan Mei 2015, Ibu Doan, 38 tahun, datang dengan kursi roda dan ditemani oleh beberapa anggota keluarganya dari Vietnam. Saya hanya dapat melihat matanya saja karena beliau menutupi kepalanya dengan topi yang ditarik turun ke bawah dan masker wajah yang menutupi setengah bagian bawah wajahnya. Beliau juga mengenakan syal yang menutupi leher dan bagian depan dadanya. Meskipun beliau berbicara dalam bahasa Mandarin, saya hampir tidak dapat mendengarnya karena suaranya sangat lirih dan sayup-sayup. Namun saya berhasil memperoleh sebagian besar riwayat medisnya dari sejumlah kecil rekam medis dan dari orang-orang yang menemaninya.

Kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan tanpa arti, sehingga hampir semua kelainan fi sik pernah saya lihat – mulai dari tulang yang berubah akibat gangren hingga payudara yang membusuk dan organ-organ yang tidak berada pada tempatnya yang berasal dari tumor yang agresif. Meski demikian, ketika tiba saatnya bagi saya untuk memeriksa Ibu Doan, saya sangat terkejut ketika beliau melepaskan maskernya. Terdapat sebuah tumor besar yang penuh dengan daging dari dasar mulut, memenuhi rongga mulut dan mencuat keluar dari mulutnya. Seperti seekor hewan yang mencoba untuk kabur dari mulutnya, kanker tersebut telah bertumbuh menjadi sangat besar hingga menekan bibir bawahnya sampai ke bawah dagunya. Selain itu, terdapat sebuah tumor lain yang lebih besar lagi, keras seperti tulang dan berukuran seperti jeruk Bali yang besar, pada bagian depan dari tulang selangka sebelah kiri. Penyakit ini telah menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan yang teramat sangat baginya. Yang paling parah adalah, beliau tidak dapat menutup mulutnya dan oleh sebab itu tidak dapat makan. Bahkan makanan cair pun sulit untuk dikonsumsi karena makanan tersebut akan mengalir keluar dari mulutnya yang terbuka sebagian. Setelah memeriksa beliau, saya yakin bahwa kemoterapi lebih lanjut akan sia-sia saja. Saya menjelaskan kepada beliau bahwa kanker yang dideritanya kemungkinan besar tidak akan merespon pada pengobatan apapun. Saya menyarankan agar selang makanan dimasukkan melalui hidungnya hingga ke dalam perutnya dan agar beliau kembali pulang ke Vietnam untuk memperoleh perawatan pendukung. Saya juga menyarankan penggunaan morfi n dalam jumlah besar untuk mengendalikan rasa nyeri. Namun Ibu Doan memiliki pemikiran yang berbeda.

Meskipun beliau telah berjuang melawan kanker selama lima tahun, beliau belum mau menyerah. Beliau menolak untuk menerima bahwa pilihan yang terbaik baginya adalah tidak menjalani pengobatan aktif apapun. Beliau bertekad untuk menjalani pengobatan bagi kanker mulut yang dideritanya. Setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk mengobati beliau dengan kemoterapi tiap minggu selama enam minggu. Beliau setuju bahwa bila kondisi beliau tidak menunjukkan perbaikan setelah enam minggu, maka beliau akan kembali ke Vietnam untuk menghabiskan sisa waktu yang beliau miliki bersama keluarganya. Beliau juga menyetujui untuk difoto setiap minggu, agar kami dapat memastikan apakah tumor di dalam mulutnya merespon terhadap pengobatan yang diberikan atau tidak.

Beliau diberikan suatu campuran hasil improvisasi dari dua obat kemoterapi bersama dengan bevacizumab, yaitu suatu antibody monoklonal yang bekerja dengan memutus suplai darah ke sel kanker. Setelah satu minggu, beliau mengatakan bahwa kanker mulutnya telah membaik. Saya tidak yakin akan hal tersebut. Pada minggu keempat, beliau berjalan masuk ke dalam ruangan saya tanpa menggunakan masker wajah, sambil tersenyum lebar, dengan mulut yang tertutup dan kedua bibirnya terkatup. Pada akhir minggu keenam, tumor mulut yang dideritanya telah menghilang. Meski demikian, tumor besar yang terdapat di bagian depan tulang selangkanya masih belum berubah ukurannya. Beliau masih tetap memiliki kanker dan prognosanya tidak baik. Namun tampaknya hal ini tidak mengganggu pikiran beliau karena beliau dapat berbicara, makan dan menunjukkan wajahnya tanpa merasa malu. Melihat koleksi foto “sebelum dan setelah” yang beliau miliki, tampak jelas bahwa kegigihan beliau dalam melawan kanker sampai habishabisan memberikan beliau kualitas hidup yang jauh lebih baik, untuk berapa pun sisa waktu yang beliau miliki. Terkadang, pasien memang tahu yang terbaik.

Ditulis oleh Dr Ang Peng Tiam
Label berpikir positif saat terkena kanker, kanker mulut (oral), kemoterapi, kisah dokter spesialis kanker, kualitas hidup pasien kanker, obat kanker, pengelolaan nyeri akibat kanker, tumor
DITERBITKAN 13 OKTOBER 2016