15 SEPTEMBER 2017

Merawat orang lain: Sebuah impian seumur hidup


Bekerja sebagai seorang perawat membantu Nurul Ashirin Badruddin menempatkan hidup dalam perspektif, ujarnya.

Nurul Ashirin Badruddin selalu ingin membantu orang yang menderita kanker.

“Saya memiliki banyak sepupu yang menderita kanker; dua orang sepupu menderita leukemia dan satu orang menderita kanker otak,” ujar staf perawat senior yang berusia 34 tahun ini. “Saat saya masih muda, saya melakukan banyak kunjungan ke rumah sakit.”

Awalnya ia hendak menjadi seorang apoteker namun nilai-nilainya tidak terlalu baik, sehingga akhirnya ia masuk ke Nanyang Polytechnic untuk belajar ilmu keperawatan. Ia lulus 14 tahun yang lalu dan sejak itu terus bekerja sebagai seorang perawat onkologi.

Meskipun keperawatan bukanlah pilihan pertamanya, ia tidak pernah menyesali pilihan tersebut.

Ia bekerja di sebuah rumah sakit yang mengalami restrukturisasi di Singapura sebelum ia pindah ke Parkway Cancer Centre pada tahun 2014. Kini, ia bekerja dengan Dr Lim ZiYi, seorang ahli onkologi yang memiliki spesialisasi di bidang hematologi. Sebagai hasilnya, sebagian besar pekerjaan Nurul saat ini melibatkan kasus-kasus hematologi dan transplantasi sumsum tulang belakang.

Bagi Nurul, harinya biasa dimulai pada pukul 8.30 pagi ketika ia mengikuti Dr Lim melakukan kunjungan pagi di ruang-ruang perawatan di Mount Elizabeth Novena Hospital.

“Kami bersama-sama memeriksa para pasien dan obat-obatan.” Kemudian ia menyampaikan instruksi yang baru kepada staf keperawatan di rumah sakit. “Saya juga berbicara kepada para pasien untuk mencari tahu apakah mereka memiliki kebutuhan khusus, seperti misalnya membutuhkan layanan seorang ahli diet atau konselor,” ujarnya.

Setelah melakukan kunjungan, ia pergi ke klinik Dr Lim di Mount Elizabeth Novena Hospital. Di sana, ia membantu mengambil darah, membantu mengambil sumsum tulang belakang untuk diperiksa, mengganti perban para pasien, atau membantu memberikan infus kemoterapi atau infus tetes kepada mereka.

Nurul mencintai pekerjaannya. “Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan selain melakukan perawatan.”

Ia mengatakan bahwa pekerjaannya sebagai seorang perawat membantunya untuk melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda. “Saya berinteraksi dengan para pasien, saya mendengar apa yang mereka lalui, dan sering kali, saya merasa ada banyak pelajaran yang dapat saya peroleh dari mereka, seperti misalnya tidak terlalu banyak mengeluh karena di sini ada orang-orang yang tidak tahu apakah mereka masih akan hidup untuk melihat hari esok.”

Tentunya bekerja di bidang onkologi memiliki tantangan tersendiri. “Saya dulu bekerja di onkologi anak selama 11 tahun,” ujar ibu dari seorang anak ini. “Setiap kali ada yang meninggal, saya akan pulang ke rumah dan menangis. Itu adalah hal yang sangat sulit.”

Meskipun ia tidak lagi bekerja di bidang onkologi anak, pekerjannya masih tetap sulit. “Dengan orang dewasa, tidaklah sesulit dengan anak-anak, namun tetap saja sulit. Saya menemukan diri saya pulang ke rumah, menangis sedikit, dan berdoa bagi mereka,” ia berkata.

“Saya tidak pernah terbiasa melihat pasien meninggal. Itu selalu menjadi hal yang cukup emosional bagi saya. Mereka bisa saja adalah istri dari seseorang, anak dari seseorang. Saya selalu merasa sedih.”

Hal itu secara khusus menjadi sulit karena perawat cenderung menghabiskan waktu dengan para pasien dan seringkali membangun sebuah hubungan yang erat. “Kami berbicara, kami bersatu, kami mengenal mereka dengan lebih baik.”

Seorang pasien yang meninggalkan kesan yang tak terhapuskan baginya adalah seorang wanita yang menderita leukemia. Nurul dan wanita tersebut kira-kira seumuran sehingga secara umum mereka memiliki banyak kesamaan. “Saya lebih menganggapnya sebagai seorang teman daripada seorang pasien,” kenangnya.

Wanita tersebut menderita leukemia yang sangat tahan terhadap pengobatan dan sangat agresif. “Saya tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya,” ujarnya.

Yang berkesan bagi Nurul adalah wanita tersebut tidak pernah menyerah dan selalu bersemangat. “Saya akan mengatakan kepadanya, ‘Saya mohon maaf, hasil Anda tidaklah terlalu baik’. Ia akan berkata: ‘Tidak apa-apa. Apakah ada hal lain yang dapat kita lakukan?’”

“Ia akan membahas mengenai keluarganya dan pekerjaannya, namun ia tidak pernah terlalu banyak membicarakan mengenai penyakit kanker yang dideritanya. Ia selalu riang gembira. Ia berjuang melawan kanker setiap hari, namun ia selalu tersenyum.”

Pasien tersebut mudah dikenang karena bahkan saat ia berjuang melawan kanker, ia selalu memikirkan orang lain. “Ia sopan dan baik serta penuh perhatian pada orang lain. Ada hari-hari dimana kami (para perawat) tidak memiliki waktu untuk makan siang, dan ia akan pergi mencarikan makan siang untuk saya. Atau ia akan membelikan makanan kecil bagi para perawat.”

Ketika ia meninggal pada bulan September 2015, Nurul merasa hancur. “Ayahnya berkata kepada saya, ‘Anda telah melakukan semua yang dapat Anda lakukan.’”

Butuh waktu beberapa bulan bagi Nurul untuk pulih dari kematian pasien tersebut. “Saya harus berbicara dengan seorang teman,” kenangnya.

Terlepas dari pengalaman ini, ia berkata bahwa ia tidak pernah berpikir untuk mengeraskan dirinya secara emosional. “Saya tidak ingin menjadi mati rasa saat melihat orang meninggal,” ujarnya.

Selain berurusan dengan pasien yang telah meninggal, tantangan lain dari pekerjaannya adalah menyampaikan kabar buruk kepada mereka. Ia mengatakan ketika tiba pada saat tersebut, ia berkata kepada para pasien: “Kita semua akan meninggal, tetapi bagaimana dan kapan, saya tidak tahu. Namun, hingga saatnya kita pergi, kita harus berjuang untuk saat apapun yang kita miliki.”

Saranya kepada para pasien tersebut adalah untuk memanfaatkan sisa waktu yang mereka miliki. “Makanlah makanan kesukaan Anda dan lakukan hal-hal yang selalu ingin Anda lakukan.”

Sebuah saran yang selalu ia berikan adalah saran yang sederhana namun penting. “Saya selalu mengatakan kepada mereka: ‘Katakanlah kepada keluarga Anda bahwa Anda mencintai mereka dan berterima kasihlah kepada mereka karena telah merawat Anda.”

Jimmy Yap
Label pengalaman dengan pasien kanker, perawat kanker, sumsum tulang belakang