03 SEPTEMBER 2016

Mengenal dan mencegah kanker

Disumbangkan oleh: Dr Khoo Kei Siong

Para peserta dalam sebuah seminar belajar mengenai penyebab kanker dan bagaimana mencegahnya.

Sekitar 200 peserta menghadiri seminar bertajuk ‘Causes and Prevention of Cancer’ (Penyebab dan Pencegahan Kanker) yang diselenggarakan di Singapore Chinese Chamber of Commerce and Industry untuk mempelajari lebih lanjut mengenai kanker. Para peserta merasa puas karena mereka menerima informasi secara langsung dari para dokter.

Dr Myat Maw Tun, Dosen Senior dari School of Health Sciences, Ngee Ann Polytechnic, yang juga merupakan ketua dari Myanmar Club Singapore, dan Dr Khoo Kei Siong, Wakil Direktur Medis dan Konsultan Senior di bidang onkologi medis dari Parkway Cancer Centre terlibat sebagai pembicara utama bersama dengan para ahli lainnya.

Sementara Dr Myat berbicara dengan masyarakat Burma dalam bahasa ibu, Dr Khoo berbicara mengenai tren kanker di Singapura dan Myanmar.

Seiring dengan bertambah makmurnya masyarakat, kanker telah menjadi masalah kesehatan masalah kesehatan utama di perkotaan. Di Singapura, kasus insidensi kanker telah mengalami peningkatan dari 11.431 menjadi 13.416 di antara tahun 2011 dan 2014. Tren yang serupa juga terlihat di Myanmar yang memiliki populasi sekitar 54 juta penduduk – sekitar 11 persen dari seluruh jumlah kematian disebabkan oleh kanker. Tren ini diprediksi akan terus meningkat di kedua negara ini.

“Jika keadaan ini berlangsung terusmenerus, maka kita sedang menuju ke arah dimana nantinya kanker merupakan suatu penyakit yang umum ditemukan pada bangsa kita,” kata Dr Khoo Kei Siong.

Sekitar 90 hingga 95 persen penyebab kanker dikaitkan dengan alasan lingkungan sementara alasan genetik hanya bertanggung jawab terhadap lima hingga 10 persen kasus kanker. Bila penyebab genetik tidak dapat diubah untuk mengurangi risiko seseorang terkena kanker, maka menurut Dr Khoo perlu dilakukan lebih banyak hal untuk mengubah faktor lingkungan termasuk kebiasaan gaya hidup yang sehat.

“Di antara 10 pasien, tiga dapat dilindungi dari kanker bila mereka mengurangi tembakau, alkohol, diet yang tidak sehat dan gaya hidup yang kurang gerak, karena hal-hal tersebut telah terbukti meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker. Berusaha untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur, misalnya mamogram dan kolonoskopi, juga dapat meningkatkan kesempatan seseorang untuk berhasil melawan kanker dengan mendeteksi kanker secara dini,” jelas Dr Khoo.

Di Singapura, dimana kanker kolorektal berada di peringkat pertama sebagai kanker yang menyerang pria dan berada di peringkat kedua sebagai kanker yang paling umum menyerang wanita, orang yang berusia di atas 50 tahun dianjurkan untuk melakukan kolonoskopi sekali tiap lima tahun. Demikian pula wanita yang telah berusia 40 tahun didorong untuk melakukan mamogram setiap tahun.

Di Myanmar, kanker mulut dan tenggorokan umum ditemukan karena para penduduk biasanya mengkonsumsi banyak tembakau, alkohol dan paan, yaitu suatu kebiasaan setempat untuk mengunyah daun sirih dengan pinang dan tembakau, Kebiasaan gaya hidup yang seperti ini dapat dengan mudah dihindari untuk mencegah terjadinya kanker.

Pwint Phyu Soe, yang berusia 28 tahun dan bekerja sebagai petugas administrasi pada sebuah perusahaan logistic, senada dengan Dr Khoo Kei Siong, melihat banyak orang Burma, termasuk almarhum kakeknya, menderita kanker tenggorokan. Seperti banyak orang lain dari generasi yang lebih tua, kakek Pwint bekerja keras sebagai seorang buruh dan sangat bergantung kepada “minuman keras dan tembakau untuk meredakan nyeri”. Dalam waktu sebentar saja kakeknya telah terjerat dalam kebiasaan ini pada usia yang masih muda.

“Itu adalah cara hidup mereka pada masa itu; tidak ada yang berpikir panjang mengenai efek yang akan timbul di kemudian hari,” ujar Pwint. Setelah menderita kanker tenggorokan selama dua tahun, kakek Pwint meninggal tahun lalu.

Pengobatan kanker yang ditargetkan dan imunoterapi merupakan pengobatan terkini yang telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam memperbaiki kesempatan untuk mengalahkan kanker. Pengobatan yang ditargetkan menggunakan obat-obatan atau bahan-bahan lain yang mampu mengidentifi kasi sel-sel kanker dengan lebih tepat dan menyerang mereka serta hanya menyebabkan sedikit kerusakan saja pada sel-sel yang normal, sementara imunoterapi menggunakan pertahanan alami tubuh pasien sendiri untuk melawan kanker.

Dr Khoo Kei Siong berkata: “Pengobatan-pengobatan ini, apakah mereka mencari sel-sel kanker dan menghancurkannya secara langsung seperti pada kasus terapi yang ditargetkan, atau dalam imunoterapi dengan membuat sistem kekebalan tubuh sendiri berperang melawan kanker, dapat mengendalikan kanker secara lebih tepat dan efektif.”

“Oleh sebab itu, kerusakan lainnya dapat diminimalkan dan pada beberapa kasus kesempatan untuk bertahan hidup menjadi lebih besar.”

Satu pesan yang sangat penting yang diperoleh Yu Yu Lwin, mahasiswa keperawatan yang berusia 18 tahun, adalah: “pencegahan lebih baik daripada pengobatan.”

“Meskipun senang mendengar bahwa kemajuan di bidang kedokteran telah menemukan cara untuk melawan kanker secara lebih efektif, penting untuk menyadari bahwa kita memainkan peran utama dalam menentukan nasib kita – dan apakah kita makan dan hidup dengan cara yang akan membuat kita jatuh sakit,” ujar Lwin. Calon perawat dari Ngee Ann Polytechnic ini mengatakan bahwa kini ia lebih memahami dan berempati dengan para pasien kanker.

Ditulis oleh Nuraisha Teng

DIPOSTING DI Pencegahan Kanker, Perawatan Kanker
Label imunoterapi, kanker gastrointestinal, kanker kepala & leher (THT), kolonoskopi, mamografi, mencegah kanker, seminar & lokakarya, terapi yang ditargetkan / terapi target