02 JUNI 2017

Mengelola kanker hati: Terobosan baru


Dokter bedah umum Dr Stephen Chang dari GLAD Clinic berbicara mengenai apa yang baru dalam mengelola kanker hati.

Hati adalah organ terbesar di dalam tubuh. Terlindungi di belakang tulang rusuk, hati merupakan organ penting yang memainkan peran penting dalam pemrosesan dan penyimpanan gizi yang diserap oleh usus. Selain itu, hati menghasilkan protein seperti misalnya protein yang membantu pembekuan darah, dan memecah zat-zat yang tidak dikehendaki di dalam darah seperti misalnya sel-sel darah merah yang sudah tua (yang mengakibatkan pembentukan empedu) dan zat-zat kimia seperti alkohol.

Kanker hati primer adalah kanker yang berasal dari hati. Pengobatan yang paling tepat bagi kanker hati adalah operasi yang melibatkan reseksi bagian yang terkena penyakit atau pembuangan bagian yang terkena penyakit bersama dengan seluruh hati dan menggantinya dengan sebuah bagian dari hati yang sehat melalui transplantasi hati.

Bedah invasif minimal membuat reseksi menjadi lebih aman dan kurang menyakitkan

Di masa lalu, operasi reseksi hati berisiko dan invasif dan transplantasi hanya sesuai untuk dilakukan pada sebagian pasien. Namun, selama bertahun-tahun, pengobatan dengan operasi pada kanker hati telah mengalami kemajuan. Dokter bedah telah menemukan teknik operasi baru untuk mengurangi rasa sakit, hilangnya darah dan morbiditas selama reseksi berlangsung. Pada saat yang sama, transplantasi hati juga mendapat tempat sebagai sebuah solusi bagi pasien kanker hati.

Seperti banyak kanker lainnya, kemajuan bedah yang utama dalam reseksi tumor hati adalah berkembangnya bedah invasif minimal. Sebelumnya, operasi hati membutuhkan sayatan yang besar untuk membuka hati, yang mana tersembunyi dengan baik oleh tulang rusuk. Namun, dengan bedah invasif minimal, kini dokter bedah dapat membuat irisan yang lebih kecil dimana sebuah teleskop dalam dimasukkan untuk memvisualisasikan hati. Lebih baru lagi, bahkan kini mungkin untuk menggunakan teknik bedah laparoskopik dengan portal tunggal untuk membuang tumor hati yang kecil melalui sebuah jaringan parut yang kecil pada pusar sehingga tidak ada jaringan parut yang terlihat.

Dibandingkan dengan metode operasi tradisional, bedah invasif minimal mengurangi kehilangan darah, nyeri dan mengurangi lama rawat inap di rumah sakit. Selain itu, tidak terdapat perbedaan antara angka kelangsungan hidup pada bedah laparoskopik dan reseksi terbuka.

Transplantasi mendapatkan tempat

Bahkan di saat dokter bedah memperbaiki teknik bedah mereka untuk membuat reseksi hati menjadi lebih aman dan kurang menyakitkan, secara terpisah, perkembangan teknik dan keamanan transplantasi telah menghasilkan peningkatan pemanfaatan transplantasi hati sebagai sebuah solusi bagi orang yang menderita kanker hati.

Dengan mentransplantasikan hati yang sehat kepada seorang pasien, kini mungkin untuk menyembuhkan pasien tumor hati dan di saat yang sama, membasmi penyebab tumor hati seperti hepatitis. Pada tahun-tahun belakangan ini, dengan ditemukannya obat-obatan yang baru, hingga 70 persen penderita hepatitis C dapat disembuhkan dengan transplantasi hati. Sembuh dari hepatitis merupakan hal yang penting karena infeksi hepatitis kronis dapat menyebabkan sirosis, yaitu meninggalkan jaringan parut pada hati, yang mana akan meningkatkan risiko terkena kanker hati.

Penelitian telah menunjukkan bahwa pasien kanker hati memiliki kesempatan kelangsungan hidup jangka panjang yang lebih baik setelah menjalani transplantasi hati bila dibandingkan dengan penatalaksanaan non-bedah lainnya.

Transplantasi juga merupakan suatu pilihan bagi beberapa pasien yang sebelumnya telah menjalani reseksi. Pasien-pasien ini diamati dengan seksama untuk melihat apakah mereka mengalami kekambuhan. Bila terjadi kekambuhan, maka dapat dilakukan transplantasi selanjutnya, yang dikenal sebagai transplantasi penyelamatan.

Donor hidup menciptakan pergeseran paradigma untuk transplantasi

Di masa lalu, sebagian besar transplantasi hati bergantung kepada donor yang sudah meninggal dimana ini tidak selalu tersedia. Oleh sebab itu tumor hati yang diderita pasien dapat berkembang hingga melampaui keadaan yang masih bisa ditransplantasi sementara menunggu adanya donor yang meninggal. Sebagai hasil dari donor hidup, terjadi perbaikan pada transplantasi hati, sehingga kini menjadi pilihan yang lebih sesuai.

Di kebanyakan negara, pasien dengan tumor yang besar biasanya tidak memenuhi syarat untuk menjalani transplantasi dari donor yang meninggal. Namun, dengan mempertimbangkan bahwa dalam hal transplantasi hati menggunakan donor hidup, biasanya yang menjadi donor adalah kerabat pasien; secara etis mungkin kurang tepat untuk menolak pilihan transplantasi hati asalkan sang donor tahu bahwa terdapat kemungkinan yang lebih tinggi bagi tumor untuk kambuh. Bagaimana pun juga, itu adalah keinginan donor untuk memperpanjang hidup orang yang dikasihinya.

Reseksi masih direkomendasikan pada kasus-kasus dimana orang memiliki tumor yang kecil dan hatinya masih berfungsi dengan baik. Meski demikian, bahkan di sini, penelitian menunjukkan bahwa jika terdapat lebih dari tiga buah tumor kecil, mungkin akan diperoleh manfaat bagi kelangsungan hidup bila memilih menjalani transplantasi hati daripada reseksi.

Terapi non-operasi

Selain operasi, terdapat terapi non-operasi seperti misalnya menggunakan panas, dingin atau zat-zat kimia untuk membunuh tumor-tumor kecil. Meskipun ini dapat efektif untuk menyembuhkan kanker-kanker kecil, angka penyembuhannya sangat rendah untuk tumor-tumor besar. Terapi non-operasi ini sesuai untuk kasus-kasus dimana operasi bukanlah suatu pilihan bagi pasien.

Dokter bedah juga memperoleh manfaat dari peralatan baru seperti misalnya NanoKnife. Ini merupakan suatu pilihan invasif bagi pasien dengan tumor yang terletak di dekat struktur penting yang perlu dipertahankan. Daripada menggunakan panas atau dingin, alat ini menggunakan arus listrik untuk menghancurkan tumor. Elektroda dalam bentuk jarum-jarum halus ditempatkan di sekitar tumor dan sistem NanoKnife mengirimkan getaran listrik di antara perangkat jarum untuk menusukkan lubang-lubang berukuran nanometer ke dalam tumor. Proses ini memicu sel untuk “bunuh diri” dan menghancurkan tumor.

Untuk pasien-pasien kanker hati, pengobatan baru dan penelitian baru memberikan harapan bagi kelangsungan hidup jangka panjang. Teknik operasi yang lebih baik, pemahaman yang lebih dalam terhadap potensi transplantasi, ketersediaan donor hidup dan perkembangan peralatan baru berarti bahwa kini dokter bedah memiliki pilihan yang lebih banyak dari sebelumnya untuk mengobati kanker hati.

Mengenai kanker hati

  • Kanker hati dapat bersifat primer, yaitu berasal dari hati itu sendiri, atau sekunder (metastatik), dimana kanker yang berasal dari tempat lain mengakibatkan timbunan sekunder terbentuk pada hati.
  • Kanker hati biasanya diobati dengan operasi. Bagian yang terkena penyakit dapat direseksi atau seluruh hati dibuang dan diganti dengan suatu bagian dari hati yang sehat melalui transplantasi.
  • Pria memiliki kemungkinan dua kali lebih besar daripada wanita untuk terkena kanker hati primer. Di seluruh dunia, ia berada pada peringkat kelima sebagai kanker yang paling umum terjadi pada pria, dan peringkat ketujuh sebagai kanker yang paling umum terjadi pada wanita. Setiap tahun di seluruh dunia terdiagnosis sekitar 600.000 kasus kanker hati primer.

Jimmy Yap

DIPOSTING DI Perawatan Kanker
Label bedah (invasif minimal) laparoskopi untuk kanker, dr stephen chang, hepatoblastoma, kanker hepatitis, terobosan terbaru dalam pengobatan kanker, transplantasi organ untuk pengobatan kanker, tumor