01 JUNI 2016

Memberi harapan pada pasien


pengalaman pribadi Mr Masfi qur bersama kanker membantunya dalam menolong orang lain dalam perjalanan mereka melawan penyakit tersebut.

In his work dalam profesinya di Parkway Cancer Centre (PCC) di Bangladesh, Mr Masfi qur Rahman Amit selalu bertemu banyak pasien setiap hari.

Sebagian meneleponnya setiap hari, bertanya kepadanya tentang semua hal yang berkaitan dengan penyakit dan kondisi mereka.

Mr Masfiqur (35) mengakui ia pernah merasakan kewalahan pada satu waktu, mengingat dahulu ia mencoba menjaga keseimbangan waktunya dengan keluarga, bekerja dan membantu menjawab pertanyaan pasien.

Namun dua tahun lalu, semuanya berubah.

Ketika ia sedang mencukur janggutnya pada suatu pagi di bulan Oktober 2013, ia mendapati ada benjolan di lehernya. Benjolan itu belakangan terdiagnosa sebagai karsinoma papiler atau kanker tiroid.

Setelah menjalani operasi dan pengobatan lanjutan, Mr Masfiqur menghabiskan waktu sepekan untuk masa pemulihannya di rumah sakit dan kembali

 ke pekerjaannya segera setelah itu.

Penemuan penyakit yang tak terduga ini membuat dirinya menyadari sesuatu tentang ‘tamu yang tak diundang’ yang menyerbu begitu gencar itu.

“Saya jadi semakin memahami seperti apa yang disebut ketidaksabaran dan kekhawatiran pasien,” kisahnya. “Pengalaman itu telah mengajarkan saya untuk memahami betapa bergejolaknya perasaan pasien dan sikap mereka.”

Mr Masfi qur telah bekerja untuk PCC di Dhaka sejak 2004 setelah lulus dengan gelar Sarjana Seni dalam bidang Literatur Bahasa Inggris.

Meskipun latar belakang pendidikannya dari dunia seni, ia memiliki minat di bidang layanan kesehatan dan membaca berbagai jurnal serta artikel kedokteran.

Memulai karir sebagai seorang dokter di rumah sakit, ia dipromosikan untuk menjadi Eksekutif Pemasaran Senior selama dua tahun. Kemudian ia menjadi Manajer Wilayah setahun setelah itu. Ia menjadi sukarelawan di pusat CanHOPE disana, yang dimulai pada 2006 silam.

Awalnya ia banyak menghabiskan banyak waktunya memperkenalkan cakupan layanan PCC kepada masyarakat di Bangladesh. Namun seiring waktu berjalan, perannya lebih cenderung seperti kenselor medis, yaitu membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar medis dari pasien dan menghubungkan antara pasien dan para dokter.

Kantor PCC di Bangladesh memiliki 14 staf yang siap membantu memenuhi keperluan pasien seperti pengajuan visa, booking akomodasi, dan lain-lain.

Kendati kantor hanya buka pada jam 9.30 pagi, para staf mulai menerima panggilan telepon yang masuk sejak pukul 6.30 pagi – biasanya telepon itu berasal dari para pasien asal Bangladesh yang tinggal di Singapura. Klinik tutup sekitar pukul 8.30 malam, setelah menangani sekitar 300 panggilan telepon dan 25 pasien.

Di antara tugas sehari-hari tersebut, para staf juga masih harus mengatur kegiatan seminar kesadaran kanker, dan pertemuan-pertemuan untuk para pejuang kanker.

Pria yang telah menikah ini mengaku bahwa ia bisa lebih dekat kepada pasien ketimbang keluarganya.

“Kami menghabiskan sebagian besar waktu bersama pasien dan membantu mereka saat mereka sedang dalam masalah yang berat. Maka sangat wajar ketika kami menjadi teman yang siap membantu mereka dan mereka pun ingat dan seringkali melakukan sesuatu yang sangat menyentuh hati untuk kami sebagai tanda syukur dan terima kasih mereka,” tuturnya.

“Mereka membenarkan, mengingat, dan menginspirasi kami. Merekalah sumber motivasi kami.”

Mr Masfiqur selalu mengunjungi pasien baik di rumah sakit atau ke rumah mereka dan bahkan ia kerap diundang dalam acara perayaan yang diadakan oleh keluarga pasien seperti ulang tahun dan hari pernikahan, terkadang sembari mengabaikan diri sendiri dan keluarganya.

Selama lebih dari 11 tahun ia telah bekerja bersama PCC, sejauh ingatannya ia telah bertemu dengan sekitar 10.000 pasien dan 50.000 lebih sanak kerabat mereka.

Kendati Mr Masfi qur bekerja sangat dekat dengan para pasien kanker, ia sendiri sampai tak menyaadari akan adanya benjolan di lehernya sendiri pada Oktober 2013 sampai tumor tersebut tumbuh sebesar 2.5 cm.

Ia bahkan menunda operasinya selama dua pekan demi mengunjungi Penang untuk bertemu dengan orang-orang seperti dirinya yang bekerja untuk pusat-pusat CanHOPE di seluruh dunia.

Selama dan setelah operasi, ia begitu merasakan kehangatan dari kolega-koleganya – dan bahkan dari sejumlah pasien yang menjenguknya di rumah sakit. Dr Luke Tan dari PCC di Singapura bahkan membebaskan biaya operasinya.

Pertarungan pribadinya melawan kanker membuat ia menyadari mengapa pasien bertanya: “Mengapa saya?” dan “Berapa lama sisa umur saya?”.

“Pengalaman ini mengajarkan saya untuk berharap, untuk berani dan untuk melawan. Saya merasa sangat beruntung bahwa saya mendapatkan jawaban untuk kanker saya… Saya diberi kesempatan kedua. Lantas apa yang bisa harus saya keluhkan?”

sekarang, ia senantiasa berbagi kisah kankernyanya sendiri dengan pasien yang merasa kacau dan nyaris menyerah untuk bangkit dan melawan penyakit mereka.  

“Saya memberi mereka harapan, keberanian untuk melawan dan motivasi untuk tak pernah menyerah,” jelas Mr Masfi  qur.

“Saya berharap setiap pasien menunjukkan kepada orang terkasih mereka bahwa karena mereka, ia tidak pernah menyerah.”

Oleh Ben Tan  

Artikel Terkait

Konsultasikan Dengan Dokter Kami