07 FEBRUARI 2018

Manfaat Olah Raga Bagi Pasien Kanker


Mengapa Anda harus berolah raga

Olah raga tidak hanya memperbaiki terapi kanker dan pemulihannya, namun juga membantu mencegahnya, ujar Dr Tan Wu Meng dari Parkway Cancer Centre.

Saat seseorang didiagnosis menderita kanker, dapat diharapkan akan terjadi perubahan dalam kehidupan sehari-hari yang dijalaninya. Namun, satu hal yang tidak boleh berubah adalah kebutuhan akan olah raga teratur, baik selama maupun setelah terapi.

Gagasan untuk berolah raga setelah dan bahkan selama menjalani terapi kanker muncul pada pertengahan tahun 1980-an, menurut para ahli kanker, dan bersamaan dengan berkembangnya kesadaran umum akan olah raga dan kebugaran. 

Mengapa penting untuk tetap bugar

Dr Tan Wu Meng, seorang ahli onkologi medis di Parkway Cancer Centre, mengatakan bahwa pada beberapa penelitian, khususnya pada penyintas kanker payudara, kolorektal atau prostat, menunjukkan hubungan antara olah raga dan kelangsungan hidup yang lebih baik pada pasien kanker.

Sebagai contoh, sebuah penelitian yang disponsori oleh National Cancer Institute di Amerika Serikat pada tahun 2006 mempelajari efek olah raga intensitas sedang pada kelompok pasien yang menderita kanker payudara dan prostat yang menjalani terapi radiasi selama enam minggu.

Mereka yang diikutsertakan dalam program harian – berjalan dengan jarak yang semakin ditingkatkan dan melakukan olah raga dengan pita ketahanan (resistance band) – mengalami lebih sedikit rasa lelah, memiliki kekuatan yang lebih besar dan kapasitas aerobik yang lebih baik bila dibandingkan dengan yang tidak berolah raga. 

Sebuah penelitian dalam Journal of Clinical Oncology yang diterbitkan pada tahun 2008 menemukan bahwa wanita penderita kanker payudara yang meningkatkan aktivitas fisiknya setelah diagnosis dan operasi memiliki risiko kematian 45 persen lebih rendah.

Salah satu efek samping yang paling umum dari kemoterapi adalah mielosupresi, yang juga dikenal sebagai imunosupresi, dimana menurunnya produksi sel-sel darah mengurangi sistem kekebalan tubuh seseorang.

Meskipun sistem kekebalan tubuh seorang pasien dapat menjadi lemah saat menjalani terapi kanker, beberapa pasien memiliki salah paham bahwa mereka harus berdiam diri di rumah untuk mencegah terkena kuman dari orang yang lalu-lalang.

Dr Tan berujar bahwa banyak pasien yang berpikir bahwa diagnosis kanker “berarti istirahat di tempat tidur bahkan bila Anda merasa baik-baik saja”.

“Dengan banyaknya kanker dan terapi modern, efek samping menjadi berkurang dibandingkan sebelumnya dan pasien lebih dapat menjalani kehidupan yang mendekati normal,” ujarnya seraya menambahkan bahwa olah raga ringan, seperti jalan cepat dan peregangan dapat dilakukan oleh banyak pasien.

Olah raga ringan di luar ruang juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh Anda.

Dr Tan juga mengatakan bahwa berolah raga dapat membantu untuk mengurangi rasa lelah dan meningkatkan kualitas hidup para penyintas kanker.

Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan di Dana-Farber Cancer Institute di Boston menemukan bahwa pasien penderita kanker kolon non-metastatik yang rutin berolah raga memiliki tingkat kematian lebih rendah selama masa penelitian dibandingkan dengan rekan-rekannya yang tidak aktif, tanpa melihat seberapa aktifnya mereka sebelum didiagnosis menderita kanker.

Penelitian menunjukkan bahwa pasien kanker yang berolah raga, hingga 50 persennya lebih sedikit mengalami rasa lelah dan depresi serta tidur lebih baik dibandingkan para pasien yang tidak berolah raga. 

Berolah raga juga membantu mengurangi lemak pada tubuh Anda, yang dikaitkan dengan pertumbuhan tumor.

Pada tahun 2012, para peneliti di University of North Carolina menemukan bahwa wanita yang berolah raga pada tahun-tahun dimana ia masih mengalami menstruasi lebih sedikit yang mengalami kanker payudara setelah menopause.

Peneliti utama Lauren McCullough mengatakan bahwa berolah raga membantu memangkas lemak tubuh dan kelebihan lemak tubuh dikaitkan dengan kadar yang lebih tinggi dari hormon dan zat tertentu, yang dikenal sebagai faktor pertumbuhan, yang dapat menyediakan makanan bagi perkembangan tumor. 

Penelitian lain menunjukkan bahwa kenaikan berat badan selama dan setelah terapi kanker meningkatkan risiko terjadinya kekambuhan kanker, khususnya pada kanker payudara, usus besar dan prostat.

Olah raga juga meningkatkan suasana hati, memberikan pasien cara alami untuk meredakan perasaan depresi yang dialami oleh beberapa pasien.

Di Singapura, National Cancer Centre dan National University Hospital menguji coba suatu program dukungan terstruktur bagi para penyintas kanker payudara dan salah satu komponen dalam program tersebut meliputi olah raga.

Olah raga yang sesuai bagi pasien kanker

Jangan berusaha untuk berolah raga terlalu keras.

Sebaiknya, berjalanlah setiap hari selama 30 menit, tidak hanya untuk mendapatkan udara segar, namun agar tubuh juga ikut bergerak.

Dr Tan menyarankan olah raga dengan intensitas lembut hingga sedang. “Mulailah secara perlahan dan tingkatkan hingga kecepatan dimana Anda merasa nyaman,” sarannya.

Bentuk lain dari olah raga aerobik intensitas sedang, seperti bersepeda statis, bersama dengan penggunaan beban yang ringan untuk latihan kekuatan, dapat meningkatkan kesehatan pasien dan memacu pemulihan tubuh dari terapi.

Olah raga seperti qigong, tai chi dan yoga juga dapat dilakukan.

Bahkan bagi para pasien yang terlalu lelah untuk pergi ke luar untuk berolah raga, kegiatan sederhana seperti peregangan dan penggunaan resistance bands – yang dapat dilakukan di rumah – juga sesuai untuk dilakukan. Bahkan membersihkan rumah ataupun berkebun juga sudah cukup baik.

Dr Tan mengatakan bahwa pasien harus berdiskusi dengan para dokter yang merawat mereka mengenai bagaimana terapi yang mereka jalani sebelumnya dapat mempengaruhi olah raga atau jadwal mereka.

“Sebagai contoh, beberapa terapi kanker menurunkan jumlah trombosit dalam tubuh untuk sementara waktu. Dalam situasi seperti itu, pasien sebaiknya menghindari latihan atau olah raga dengan dampak tinggi yang dapat menyebabkan terjadinya jatuh, memar atau tergores pada kulit.”

Tetap bugar... dengan cara yang aman

Hindari kolam renang

Pasien yang menjalani terapi radiasi harus menghindari kolam renang karena mereka dapat terpapar oleh  bakteri yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Klorin pada air kolam juga dapat mengiritasi kulit yang diradiasi.

Tanyakan pada dokter Anda

Pasien yang ingin berolah raga harus membicarakan rencana mereka dengan ahli onkologi yang merawat mereka.

Dengarkan tubuh Anda

Pasien juga perlu memperhatikan bahwa meskipun penting untuk tetap menjalankan rutinitas olah raga, akan ada hari tertentu dimana terapi membuat mereka merasa lelah dan tidak mungkin untuk melakukan olah raga. Dalam situasi seperti itu, selalu dengarkan tubuh Anda dan beristirahatlah.

Ben Tan

DIPOSTING DI Olahraga
Label gaya hidup yang sehat, kanker & olahraga, kelangsungan hidup pasien kanker, kualitas hidup pasien kanker