13 APRIL 2017

Limfoma: Senjata baru untuk peperangan Apa yang baru dalam pengobatan limfoma


Dr Lim ZiYi, Konsultan Senior (hematologi) di Parkway Cancer Centre, membahas mengenai hal yang mutakhir dalam mengobati limfoma.

Limfoma merupakan bentuk kanker darah yang paling umum dijumpai pada orang dewasa – satu dari 50 orang akan menderita limfoma dalam hidupnya. Seiring dengan bertambah tuanya populasi, limfoma akan semakin bertambah umum dan memang, insidensi terjadinya limfoma telah terus meningkat selama 15 tahun terakhir.

Stadium limfoma

Terdapat 4 stadium utama (Stadium 1 hingga 4) dan juga kategori A atau B sebagai berikut:

Stadium 1: Satu kelompok kelenjar getah bening yang terkena terletak pada salah satu sisi diafragma.

Stadium 2: Dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening yang terkena namun tetap masih pada satu sisi diafragma saja.

Stadium 3: Sedikitnya dua kelompok kelenjar getah bening yang terkena namun harus pada kedua sisi diafragma.

Stadium 4: Bila ada penyakit yang mengenai suatu organ (contohnya sumsum tulang belakang, hati) selain kelenjar getah bening.

Stadium A: Tidak adanya demam yang berulang, keringat di malam hari atau penurunan berat badan.

Stadium B: Ada salah satu dari hal yang disebutkan di atas.

Limfoma umumnya dideteksi pada stadium yang sudah lebih lanjut, namun bahkan pada Stadium 4, tingkat kesembuhannya sekitar 50 persen. Selama puluhan tahun, hasil pengobatan orang yang menderita limfoma telah mengalami perbaikan. Pada tahun 1970-an, angka kelangsungan hidup selama lima tahun untuk limfoma adalah kurang lebih 50 persen. Saat ini, angka tersebut lebih dari 70 persen. Perbaikan hasil ini sebagian besar disebabkan oleh kemajuan yang bermakna dalam pengobatan limfoma.

Bentuk utama dari pengobatan limfoma secara tradisional adalah kemoterapi dan terkadang radioterapi. Namun, dalam dua dekade terakhir, terapi yang ditargetkan telah membuat perubahan yang bermakna bagi pengobatan pasien yang menderita limfoma.

Terapi yang ditargetkan

Terapi yang ditargetkan menghambat pertumbuhan dan penyebaran kanker dengan mengganggu molekul tertentu yang terlibat dalam pertumbuhan, perkembangan, dan penyebaran kanker.

Satu obat yang penting dalam pengobatan limfoma adalah rituksimab, yang merupakan generasi pertama dari antibodi monoklonal. Ini merupakan antibodi rekayasa yang menargetkan protein pada sel kanker. Di Amerika Serikat, angka kematian akibat limfoma berkurang secara bermakna sejak tahun 1997, setelah rituksimab disetujui untuk digunakan.

Obat-obat lainnya kemudian juga muncul untuk menargetkan jenis limfoma yang berbeda. Obat-obat ini termasuk brentuksimab vedotin dan ibrutinib.

Brentuksimab vedotin menargetkan protein CD30, yang diekspresikan dalam limfoma Hodgkin dan limfoma sel besar anaplastik sistemik. Di sisi lain, ibrutinib, merupakan sebuah obat yang berikatan dengan sebuah protein, tirosin kinase Bruton/Bruton’s tyrosine kinase (BTK), yang ditemukan pada sel-sel B yang merupakan salah satu jenis sel darah putih. Obat ini digunakan pada kanker-kanker sel B seperti limfoma sel mantel dan juga leukemia limfositik kronik.

Obat-obatan ini merupakan bagian dari gelombang baru terapi limfoma yang mengubah hasil pengobatan pasien.

Namun, meskipun terapi yang ditargetkan dapat efektif, terapi ini bukan selalu menjadi solusi yang permanen karena kanker dapat berkembang dan menjadi kebal terhadap obat. Pada saat itulah imunoterapi akan berperan.

Imunoterapi

Imunoterapi adalah suatu bentuk terapi dimana sistem kekebalan tubuh pasien sendiri diaktifkan untuk melawan sel-sel kanker di dalamnya. Terapi ini telah disebut sebagai pilar keempat dari pengobatan kanker, bersama dengan kemoterapi, radioterapi dan terapi yang ditargetkan.

Pada banyak pasien kanker stadium lanjut, sistem kekebalan tubuh mereka seringkali tidak dapat mengenali atau melawan kanker dengan efektif.

Sebuah kelas baru dari obat-obatan imunoterapi yang menargetkan reseptor penting (yang dikenal sebagai PD-1) telah terlihat sangat efektif pada kanker tumor padat. Data baru juga telah menunjukkan bahwa obat-obat ini sangat efektif pada pasien limfoma Hodgkin yang resistan dengan terlihatnya hasil yang mengesankan.

Memahami limfoma

  • Terdapat lebih dari 50 jenis limfoma namun semua itu secara umum dapat diklasifi kasikan ke dalam dua kategori: tingkat tinggi dan tingkat rendah.
  • Limfoma tingkat tinggi bertumbuh dengan cepat dan tanpa pengobatan, banyak pasien akan meninggal akibat perkembangan penyakit yang cepat. Meski demikian, limfoma tingkat tinggi memiliki potensi untuk disembuhkan dengan kemoterapi.
  • Limfoma tingkat rendah bertumbuh selama bertahuntahun atau puluhan tahun, pada stadium dini, tidak dibutuhkan pengobatan. Namun, umumnya limfoma jenis ini tidak dapat disembuhkan dengan kemoterapi dan seringkali pasien membutuhkan terapi intermiten (berselang).
  • Salah satu tanda limfoma adalah pembengkakan kelenjar getah bening, namun kebanyakan kasus pembengkakan kelenjar getah bening bukanlah limfoma. Pasien sebaiknya menemui seorang dokter spesialis bila kelenjar getah beningnya terus-menerus membengkak, selama empat minggu atau lebih, bila ukurannya membesar, bila ukurannya lebih besar dari 2 cm, bila kelenjar yang membesar tersebar luas dan bila hal ini diikuti dengan gejala-gejala lainnya.
  • Gejala-gejala lainnya meliputi demam, keringat di malam hari, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas dan pruritus, yaitu gatal-gatal yang parah. Meski demikian, gejala-gejala ini juga berkaitan dengan sebab lainnya, termasuk infeksi seperti tuberkulosis, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.  
DIPOSTING DI Perawatan Kanker
Label cara baru untuk mengobati kanker, imunoterapi, kanker darah, obat kanker, pembengkakan kelenjar getah bening / kelenjar getah bening yang membengkak, terapi yang ditargetkan / terapi target