08 MEI 2017

Kanker serviks: Mencegah dan mengobati


Meningkatkan kesadaran mengenai risiko kanker serviks dapat membuat kanker yang umum dijumpai pada wanita ini keluar dari daftar 10 Teratas (Top 10).

Kanker serviks adalah kanker nomor 10 yang paling umum dijumpai di antara kaum wanita di Singapura. Namun beberapa dokter berharap agar kanker pada bagian bawah rahim tersebut keluar dari daftar 10 teratas (top 10) dalam waktu dekat, seiring dengan meningkatnya kesadaran kaum wanita mengenai kanker tersebut dengan melakukan berbagai cara untuk mengurangi resiko dan mendeteksi nya secara dini.

Lagipula, kanker serviks adalah salah satu dari kanker yang paling dapat diobati. Di Singapura, jumlah kasus baru telah berkurang secara signifi kan selama bertahun-tahun, yang mana hal ini telah menurunkan peringkat kanker serviks dari peringkat lima ke peringkat 10. Kini, sekitar 190 kasus terdiagnosis setiap tahun, dan kanker ini seringkali ditandai sebagai “kanker yang 100 persen dapat dicegah”.

Yang membuat hal ini menjadi mungkin adalah semakin banyak wanita yang berisiko tinggi yang melakukan lebih banyak hal untuk mencegah, atau sedikitnya, mengurangi risiko mereka, dan melakukan skrining dini sehingga mereka dapat diobati pada stadium dini atau bahkan pada stadium pra-invasif.

Meski demikian, kanker ini dapat dicegah, dideteksi, dan diobati hanya bila kaum wanita mengetahui hal yang benar untuk dilakukan.

Memahami risikonya

Kanker serviks adalah kanker ganas yang muncul pada jaringan serviks, yaitu organ yang menghubungkan rahim dan vagina.

Jenis kanker serviks yang paling umum sejauh ini adalah Karsinoma Sel Skuamosa/ Squamous Cell Carcinoma (SCC). Kanker ini terjadi akibat infeksi dari Virus Papilloma Manusia/Human Papilloma Virus (HPV), yaitu sebuah jenis virus yang umum ditemukan. Jenis lainnya, termasuk adenokarsinoma, karsinoma sel kecil, adenoskuamosa, adenosarkoma, melanoma dan limfoma, jauh lebih jarang ditemui, jumlahnya tidak lebih dari 20 persen dari semua kanker serviks.

Terdapat sekitar 150 jenis HPV – infeksi yang umum terjadi yang ditularkan secara seksual – namun kurang dari 20 di antaranya yang nyatanya menyebabkan kanker serviks dan kanker lainnya seperti kanker vulva, vagina, penis, anus, dan bagian belakang tenggorokan.

Inilah bagaimana biasanya kanker serviks terjadi: Diawali oleh infeksi HPV pada serviks, yang mana bila tidak sembuh dalam periode waktu tertentu, dapat memicu pertumbuhan yang abnormal pada sel-sel di lapisan dalam. Sel-sel ini kemudian dapat berkembang dan mengalami perubahan pra-kanker, pra-invasif, yang disebut sebagai Neoplasia Intraepitel Serviks/Cervical Intraepithelial Neoplasia (CIN). Bila dibiarkan tidak diobati, CIN dapat berubah menjadi sebuah kanker yang invasif.

Meski demikian, perlu dicatat bahwa infeksi HPV tidak selalu menyebabkan kanker. Pada kenyataannya, infeksi tersebut tidak menyebabkan kanker pada sebagian besar – hingga 90 persen – kasus.

Namun, beberapa infeksi HPV menyebabkan pertumbuhan kulit pada alat kelamin yang disebut sebagai kutil kelamin. Ini dapat menyebabkan nyeri dan rasa tidak nyaman, namun tidak bersifat kanker.

Karena kebanyakan kasus kanker serviks melibatkan HPV, yang ditularkan secara seksual, wanita yang aktif secara seksual lebih mudah terkena kanker serviks. Mereka yang memiliki banyak pasangan seksual, atau pasangan yang memiliki banyak pasangan lain, menghadapi risiko yang lebih besar, sementara mereka yang mulai melakukan hubungan seksual tanpa pelindung sebelum berusia 16 tahun memiliki risiko yang paling tinggi.

Umumnya, wanita berusia antara 17 dan 20 memiliki kemungkinan paling besar untuk terjangkit infeksi HPV, dan kebanyakan kasus CIN ditemukan pada wanita yang lebih muda. Mereka yang memiliki riwayat penyakit menular seksual seperti herpes dan kutil kelamin juga memiliki risiko yang lebih tinggi.

Merokok juga dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi HPV, sama halnya dengan penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang. Wanita yang sistem kekebalan tubuhnya lemah juga menghadapi risiko yang lebih besar.

Gejala-gejala yang perlu diperhatikan

Salah satu tantangan untuk mencoba mendeteksi kanker serviks adalah tidak ada gejala pada stadium dini. Dengan beberapa perkiraan, setengah dari semua wanita menemukan bahwa mereka menderita kanker serviks hanya setelah kankernya berada pada stadium lanjut, ketika kanker sudah menyebar.

Pada stadium akhir, gejala yang khusus adalah:

  • Pendarahan vagina setelah melakukan hubungan seksua atau setelah menopause
  • Pendarahan vagina yang abnormal di antara masa haid
  • Cairan vagina yang tidak biasa yang dapat bersifat kental atau berbau busuk
  • Nyeri perut bagian bawah atau nyeri ketika melakukan hubungan seksual
  • Nyeri punggung
  • Nyeri atau kesulitan berkemih dan air seni yang keruh
  • Sembelit kronik dan perasaan adanya tinja meskipun telah buang air besar
  • Bocornya air seni atau tinja dari vagina
     

Karena tidak ada tanda-tanda awal, dan beberapa gejala di atas dapat keliru dianggap sebagai kondisi lainnya seperti infeksi jamur atau infeksi saluran kemih, dokter mendesak para wanita untuk melakukan skrining yang teratur.

Pencegahan melalui vaksinasi

Sementara infeksi HPV tidak dapat diobati, wanita dapat mengurangi risiko terjadinya infeksi dan terjadinya kanker yang berkaitan dengan HPV. Satu cara yang efektif adalah vaksinasi.

Secara khusus, dua vaksin, yaitu Cervarix dan Gardasil, telah terlihat mencegah 70 hingga 80 persen kanker serviks, dan dianggap aman of Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization.

Diberikan dalam tiga dosis selama enam bulan, kedua obat tersebut harus diberikan kepada gadisgadis muda – sebelum mereka mulai memiliki aktivitas seksual – agar dapat memberikan efek yang maksimal.

Dokter merekomendasikan vaksin tersebut untuk diberikan kepada wanita antara usia 9 dan 26. Namun wanita harus meminta saran dari dokter terlebih dahulu, untuk melihat vaksin mana yang harus mereka gunakan – dan apakah mereka memang harus menggunakannya.

Namun, vaksinasi tidak menjamin bahwa seorang wanita tidak akan terkena infeksi HPV atau lolos dari kanker serviks. Vaksin hanya melindungi dari beberapa jenis risiko tinggi, oleh sebab itu wanita harus belajar mengenali gejalagejalanya dan menjalani skrining secara teratur untuk memastikan bahwa mereka dapat mendeteksi kanker secara dini.

Deteksi dini melalui skrining

Salah satu metode skrining yang paling umum digunakan untuk kanker serviks adalah Pap smear. Ini melibatkan pengambilan contoh sel dari permukaan serviks pada pemeriksaan vagina. Tes ini dilakukan dengan cepat, sederhana dan tanpa rasa nyeri. Statistik menunjukkan bahwa Pap smears yang tepat waktu dan teratur dapat mengurangi insidensi kanker serviks hingga sebesar 90 persen.

Dapat memakan waktu hingga 5 sampai 10 tahun untuk CIN berkembang menjadi kanker, oleh sebab itu Pap smears harus dilakukan untuk mendeteksi CIN secara dini. Hal ini kemudian dapat dikelola sebelum berkembang menjadi kanker.

Wanita disarankan untuk mulai melakukan Pap smears secara dini, segera setelah mereka menjadi aktif secara seksual. Dokter menyarankan agar mulai melakukannya pada usia 18 tahun dan melakukan tes tersebut tiap tahun selama satu hingga tiga tahun. Frekuensinya kemudian dapat diturunkan menjadi sekali tiap tiga tahun.

Bila Pap smear menunjukkan bahwa beberapa sel pada serviks tampak abnormal, maka dapat dilakukan tes lebih lanjut. Hal ini dapat meliputi kolposkopi – yaitu memeriksa serviks dengan menggunakan mikroskop. Prosedur ini tanpa nyeri dan hanya memakan waktu 15 menit. Dokter juga dapat meminta untuk dilakukan rontgen dada, pemindaian CT, MRI perut dan panggul, atau pemeriksaan panggul.

Pengobatan

Bila CIN pra-invasif ditemukan pada saat skrining, lapisan serviks yang abnormal dapat dibuang untuk mencegah sel-sel tersebut berubah menjadi kanker. Ini dapat dilakukan dengan teknik sayatan local seperti biopsi dengan menggunakan pisau atau kerucut laser, atau teknik ablasi seperti penguapan laser atau koagulasi dingin.

Bila ditemukan adanya kanker invasif stadium dini, biasanya dilakukan operasi. Ini bisanya melibatkan histerektomi, atau pengangkatan rahim bersama dengan jaringan dan kelenjar getah bening di sekitarnya. Radioterapi dan kemoterapi juga dapat diberikan. Angka kelangsungan hidup untuk kanker serviks stadium dini sangatlah baik, dengan angka kelangsungan hidup selama lima tahun mencapai setinggi 95 persen.

Bila kanker serviks telah mencapai stadium lanjut dan tidak mungkin dilakukan operasi, maka biasanya akan dilakukan kemoradioterapi atau radioterapi. Angka kelangsungan hidup kanker serviks stadium lanjut lebih rendah, jatuh di bawah 40 persen untuk angka kelangsungan hidup selama lima tahun.

Kok Bee Eng  

DIPOSTING DI Pencegahan Kanker, Perawatan Kanker
Label histerektomi, kanker serviks, kanker virus papiloma manusia (HPV), kanker wanita (kebidanan), kanker yang umum, karsinoma sel skuamosa (KSS), mencegah kanker, pap smear, vaksinasi