Imunoterapi: Pilar baru dalam pengobatan

Disumbangkan oleh: Dr Zee Ying Kiat

Dr Zee Ying Kiat dari Parkway Cancer Centre membahas mengenai penghambat checkpoint imun dan masa depannya dalam pengobatan kanker.

Imunoterapi telah menjadi kata kunci sebagai bentuk pengobatan kanker yang revolusioner dengan potensi yang luar biasa. Imunoterapi merupakan bagian dari pengobatan yang diberikan kepada mantan presiden AS Jimmy Carter untuk mengobati melanoma yang telah bermetastase dan menyebar ke hati dan otak beliau. Sebagian berkat imunoterapi, beliau dapat mengalahkan kankernya. Imunoterapi menggunakan kekuatan asli dari sistem imun tubuh sendiri untuk memerangi kanker dan sebenarnya, ini telah dilakukan sejak abad ke-19. Prinsip yang mendasari imunoterapi ditemukan secara kebetulan pada tahun 1890-an oleh seorang dokter bedah ortopedi di New York yang bernama William Bradley Coley. Ia menemukan bahwa orang yang mengalami infeksi setelah operasi dan bertahan hidup, tampak lebih baik daripada mereka yang tidak mengalami infeksi. Beliau memiliki teori bahwa infeksi telah membantu mendorong sistem imun tubuh, yang kemudian akan menyerang kanker dan juga infeksi. Selama puluhan tahun, dokter telah memiliki pemahaman yang lebih besar mengenai bagaimana sistem imun tubuh dapat dimanfaatkan untuk memerangi kanker. Tonggak kunci di dalam perjalanannya meliputi penemuan bahwa sel imun yang dikenal sebagai limfosit T dapat mengidentifi kasi molekul yang berhubungan dengan tumor, sehingga menyebabkan respon imun. Hal ini merupakan suatu titik balik karena menyebabkan dapat dilakukannya identifikasi checkpoint yang mengendalikan atau memodulasi limfosit T. Pada tahun 2011, U.S. Food and Drug Administration menyetujui penggunaan ipilimumab, penghambat checkpoint imun yang pertama. Hal ini akan merevolusi imunoterapi karena penggunaan ipilimumab terlihat secara bermakna memperbaiki tingkat kelangsungan hidup pasien yang menderita melanoma stadium lanjut (suatu jenis kanker kulit yang serius).

Latar belakang ilmiah dari penghambat checkpoint imun

Penghambat checkpoint imun adalah bentuk imunoterapi yang paling banyak digunakan saat ini. Mereka bekerja dengan menghentikan “rem” pada limfosit T. Tugas limfosit T adalah untuk melihat apakah ada ketidaknormalan sel dan infeksi dan kemudian memerangi mereka. Seberapa keras limfosit T bekerja dipengaruhi oleh beragam molekul yang melekat pada permukaannya. Beberapa molekul, ketika distimulasi, menyebabkan penghambatan fungsi limfosit T. Molekul lainnya, ketika distimulasi, sebenarnya dapat mengaktivasi limfosit T untuk melawan tumor. Beberapa kanker menyingkirkan pertahanan tubuh yang alami dengan menstimulasi molekul yang menghambat limfosit T, sehingga mencegah terjadinya respon imun melawan kanker. Penghambat checkpoint imun adalah obat-obatan yang menghentikan “rem” pada sel T, sehingga memungkinkan mereka dilepaskan untuk berperang melawan sel-sel kanker.

Selain ipilimumab (yang juga dikenal sebagai Yervoy), penghambat checkpoint lainnya yang telah memperoleh persetujuan dari FDA adalah pembrolizumab (Keytruda), nivolumab (Opdivo) dan atezolizumab (Tecentriq). Masing-masing penghambat checkpoint ini telah disetujui penggunaannya untuk jenis kanker yang berbedabeda. Sebagai contoh, ipilimumab telah disetujui sebagai pengobatan lini pertama untuk melanoma dan bagi pasien dengan melanoma berisiko tinggi yang telah menjalani operasi. Pembrolizumab telah disetujui penggunaannya untuk melanoma, kanker paru non sel kecil, persentase kecil dari kanker kolorektal yang memiliki beban mutasi yang tinggi, serta kanker sel skuamosa kepala dan leher. Nivolumab telah disetujui penggunaannya untuk melanoma, kanker paru non sel kecil, kanker ginjal dan limfoma Hodgkin sementara atezolizumab telah disetujui untuk pengobatan kanker kandung kemih dan kanker paru non sel kecil. Berkat rekam jejaknya, kini imunoterapi dipandang sebagai salah satu pilar pengobatan kanker, bersama dengan kemoterapi, terapi radiasi, operasi dan terapi yang ditargetkan.

Masa depan

Melihat bahwa imunoterapi telah berhasil memerangi beberapa kanker, para peneliti kini berlomba-lomba untuk melihat apakah imunoterapi dapat digunakan secara efektif untuk melawan kanker yang lainnya. Ratusan penelitian yang sedang berjalan meneliti penggunaan penghambat checkpoint dalam mengatasi kanker jenis lainnya. Penelitian-penelitian ini juga meneliti penggunaan penghambat checkpoint dalam kombinasi dengan kemoterapi, terapi yang ditargetkan dan bentuk imunoterapi lainnya. Pemahaman kita mengenai imunoterapi hanya belakangan ini baru mulai mengalami peningkatan dan masih banyak yang harus ditemukan. Seiring dengan semakin banyaknya yang kita pelajari mengenai penghambat checkpoint dan seiring dengan matangnya bentuk imunoterapi yang lain, kemungkinan besar kita akan melihat bentuk terapi ini memainkan peran yang lebih besar lagi dalam perang melawan kanker.

Jimmy Yap
DIPOSTING DI Perawatan Kanker
Label cara baru untuk mengobati kanker, imunoterapi, karsinoma sel skuamosa (KSS), penghambat checkpoint imun
Baca Selengkapnya Tentang Melanoma
DITERBITKAN 11 APRIL 2017