Imunoterapi: Apa yang terbaru


Dr Patricia Kho dari Parkway Cancer Centre membahas mengenai perbaikan dalam imunoterapi yang dapat meningkatkan angka ketahanan hidup untuk beberapa jenis kanker.

Imunoterapi adalah suatu jenis pengobatan yang menggunakan bagian tertentu dari sistem imun seseorang untuk melawan kanker. Ini bekerja dalam dua arah, dimana salah satunya adalah untuk menstimulasi sistem imun untuk menyerang penyakit pada tingkat sel.

Menggunakan vaksin merupakan salah satu bentuk paling awal dari imunoterapi, dimana suatu versi bakter yang dilemahkan dimasukkan ke dalam tubuh sehingga sistem imun dapat mempelajari bagaimana cara untuk memerangi penyakit yang sesungguhnya. Penghambat checkpoint imun, yang merupakan terapi inovatif saat ini, membebaskan “rem” pada sistem imun seseorang dan memanfaatkan sistem imun seseorang untuk mengenali dan menyerang sel-sel kanker.

Cara kerja yang kedua dari imunoterapi adalah dengan memberikan komponen sistem imun kepada tubuh, seperti misalnya protein sistem imun buatan manusia. Kemunculan teknologi, khususnya dalam area pengobatan kanker, telah memungkinkan kemajuan imunoterapi dimana obat dapat secara spesifik menargetkan sel-sel kanker tanpa merusak sel-sel yang sehat.

Jenis-jenis imunoterapi

Obat-obat imunoterapi digunakan untuk mengobati berbagai jenis kanker, termasuk paru, melanoma, kepala dan leher, saluran cerna, payudara, ginjal, kandung kemih dan limfoma Hodgkin.

Jenis utama imunoterapi yang sekarang digunakan meliputi antibodi monoklonal, penghambat checkpoint imun, dan vaksin kanker.

Penggunaan penghambat checkpoint imun untuk mengobati kanker dapat lebih efektif daripada kemoterapi atau terapi yang ditargetkan pada beberapa kanker tertentu karena ia memiliki angka respon yang lebih tinggi dengan masa pengendalian penyakit yang lebih panjang dan memiliki lebih sedikit insidensi efek samping.

Bagaimanakah cara kerja penghambat checkpoint imun?

Sistem imun kita memiliki protein checkpoint, seperti misalnya PD-1. Secara spesifik, itu adalah protein checkpoint pada sel-sel sistem imun yang disebut sel-sel T dan mencegah mereka menyerang sel-sel yang sehat. Ia melakukan ini ketika melekat pada sebuah protein yang disebut PD-L1. Terkadang sel-sel kanker memiliki PD-L1 dalam jumlah besar, yang mana membantu mereka untuk mengelabui sel-sel T yang kita miliki sehingga mereka dibiarkan saja.

Penghambat PD-1 meliputi obat-obatan seperti Pembrolizumab dan Nivolumab. Obat-obat ini menghambat pengikatan PD-L1 pada PD-1 dan memungkinkan sel-sel T yang kita miliki untuk mengenali dan membunuh sel-sel tumor. Obat-obat ini diberikan melalui injeksi intravena, terapi intravesikal atau dipakai secara topikal.

Siapakah yang sesuai untuk imunoterapi?

Ini tergantung pada jenis kanker yang Anda derita. Meskipun terapi ini efektif untuk berbagai jenis kanker, Anda mungkin harus menjalani terapi jenis lain sebelum memulai imunoterapi. Sebagai contoh, pada kanker paru non sel kecil, bila kanker Anda positif memiliki mutasi EGFR, Anda perlu terlebih dahulu menjalani terapi yang ditargetkan karena itu merupakan yang paling efektif bagi kanker paru non-sel kecil dengan mutasi yang positif. Namun, bila kanker Anda negatif mutasi, Anda mungkin akan memperoleh manfaat bila diberikan imunoterapi terlebih dahulu. Bicaralah dengan dokter Anda untuk menentukan apakah imunoterapi dapat diimplementasikan ke dalam rencana pengobatan Anda.

Efek samping dan pertimbangan lainnya

Meski jarang, imunoterapi memang memiliki efek samping. Efek samping ini meliputi pneumonitis (peradangan pada paru-paru), kolitis (peradangan usus), dan gangguan endokrin seperti abnormalitas tiroid dan insufisiensi adrenal. Untungnya, bila efek samping terdeteksi dini dan diobati dini, sebagian besar dari efek samping ini dapat diatasi. Oleh sebab itu, penting untuk imunoterapi diberikan oleh dokter spesialis onkologi yang berpengalaman.

Charmaine Ng

DIPOSTING DI Perawatan Kanker
Label efek samping yang umum dari pengobatan kanker, imunoterapi, mutasi kanker, obat kanker, penghambat checkpoint imun, terobosan terbaru dalam pengobatan kanker, vaksinasi
Baca Selengkapnya Tentang Melanoma
DITERBITKAN 02 JUNI 2017