19 AGUSTUS 2016

Dari pemberontak di kelas menjadi konselor yang sabar


Terdapat stigma sosial bagi orang-orang yang mencari layanan konseling profesional dan bagi Dominica Chua, konselor kanker yang berusia 27 tahun, mengubah persepsi telah menjadi misinya sejak ia memulai karirnya di Parkway Cancer Centre (PCC) enam bulan yang lalu.

Dominica bercerita dengan terus terang bahwa ia tumbuh sebagai seorang remaja yang nakal. Ia menceritakan mengenai perilakunya yang mengganggu di dalam kelas dan bagaimana gurunya dahulu memberikan ia banyak kesempatan untuk memperbaiki perilakunya. Membuka sebuah lembaran baru bukanlah hal yang mudah.

“Pada masa itu, saya memiliki sifat pemberontak dan juga berperan sebagai badut di kelas. Hukuman yang diberikan tidak berarti apa-apa bagi saya. Saya mengacaukan laboratorium ilmiah dan seringkali tidak mengerjakan pekerjaan rumah saya. Mengganggu pelajaran merupakan hal yang menyenangkan bagi saya – bahkan suatu kali, guru memanggil orang tua saya untuk mendiskusikan mengenai perilaku saya yang nakal.”

“Meski demikian, guru yang bertanggung jawab terhadap saya tetap mendampingi di sisi saya,” ujar Dominica yang merasa bersyukur akan hal tersebut dan menambahkan bahwa gurunya memainkan peran yang penting dan sangat berpengaruh sebagai seorang konselor di dimana pada saat itu masih sangat sedikit konselor sekolah yang tersedia.

Dominica terinspirasi oleh contoh yang diberikan oleh gurunya dan berkeinginan untuk memberikan dampak yang positif dalam kehidupan orang lain. Setelah lulus dari O-Level, ia memiliki impian untuk memperoleh diploma atau gelar sarjana dalam bidang konseling, namun pada saat itu belum ada politeknik atau universitas di Singapura yang menyelenggarakan kuliah di bidang tersebut. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk memilih bidang lain yang juga dicintainya, yaitu musik, dan kuliah selama empat tahun; namun semangatnya untuk menjadi seorang konselor tidak pernah padam.

Belakangan ia menemukan program pasca sarjana dalam bidang konseling dan, setelah memperoleh gelar Diploma in Social Science (Professional Counselling), ia mulai bekerja dengan kaum muda yang berisiko serta keluarga mereka. Ia telah menangani berbagai kasus penyiksaan, trauma dan gangguan kasih sayang yang dirujuk oleh Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga (Ministry of Social and Family Development).

Setelah memperoleh pengalaman yang berharga di sektor layanan sosial, Dominica tertarik untuk bekerja dengan PCC, dimana ia bersama sekelompok konselor memberikan dukungan psiko-sosial bagi pasien-pasien kanker dan para perawat pasien kanker tersebut. Ia menikmati menbangun hubungan dengan pasien-pasiennya, memberikan pelayanan, dukungan dan saran pada berbagai tahap yang berbeda dalam pengobatan mereka. Meskipun ia merupakan konselor bagi mereka, Dominica mengatakan bahwa ia belajar lebih banyak dari pasien-pasiennya daripada pasien-pasiennya belajar dari dirinya.

“Setiap hari merupakan perjalanan yang menarik bersama mereka. Membawa penyembuhan bagi orang lain berarti belajar untuk meletakkan masalah pada perspektif yang tepat dan menyelesaikan kekacauan dalam diri sendiri sebelum membantu orang lain mengatasi masalahnya.

Dominica menyimpulkan, “Anda akan belajar lebih banyak mengenai diri Anda dengan membantu orang lain.”

Meskipun kaum muda dan pasien kanker memiliki masalah dan situasi yang berbeda, Dominica sangat percaya bahwa meninjau masa lalu untuk mengatasi rasa takut dan membangun pandangan yang positif dalam hidup merupakan inti dari konseling dan panduan yang diberikannya.

“Tiap orang memiliki traumanya masingmasing yang harus dihadapi. Bagi pasien, ini bahkan dapat berasal dari rasa takut terhadap suntikan jarum – dimana rasa takut ini menghalangi mereka untuk melakukan pengobatan lebih lanjut,” ujar Dominica.

Tidak semua pasien bersikap terbuka untuk membicarakan mengenai trauma yang mereka miliki. Oleh sebab itu, Dominica sangat bergantung pada intuisi dan hubungan persahabatan.

“Di sekolah, kami belajar mengenai berbagai pendekatan terapi yang berbeda, misalnya terapi yang berpusat pada seseorang, terapi yang berfokus pada solusi, terapi perilaku kognitif berbasis kesadaran dengan prinsip-prinsip psikoterapi konstruktif dan psikoterapi psikodinamik. Namun, semua ini hanya berupa sebuah kerangka kerja.

“Sebagai seorang konselor, saya merasa kadang kala saya hanya perlu berada di sana menggenggam tangan mereka karena mereka bahkan tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menceritakan apa yang mereka alami,” ujar Dominica.

Ia melihat profesinya sebagai sebuah perjalanan penyembuhan dan menumbuhkan kesadaran, dimana pasien bersedia untuk berbagi dengan para konselor. “Kita semua membutuhkan seseorang untuk berjalan bersama kita, tanpa peduli mengenai situasi, latar belakang maupun tujuan kita. Tanpa penghakiman. Kami akan berada di sini,” ujar Dominica.

Ditulis oleh Nuraisha Teng  

Label konselor kanker