Perjalanan Hidup Putriku
Ibunda Do Thi Thanh Tam, sesuai kisahnya pada Benjamin Lee
Ini merupakan kunjungan kami yang kedelapan ke Singapura. Sejak September 2006, aku selalu membawa putriku, Do Thi Thanh Tam untuk dirawat di PCC. Aku ingin menceritakan kisah kami karena aku ingin berterima kasih kepada Dr. Ang Peng Tiam, dan semua dokter dan perawat di Mount Elizabeth Hospital atas segala usaha yang mereka lakukan untuk Tam.
Aku seorang ibu tunggal dengan dua anak, dan Tam yang berusia 15 tahun itu adalah anak bungsuku, kesayangan keluarga.
Di bulan Juli 2006, Tam jatuh sakit dan aku membawanya ke rumah sakit di Ho Chi Minh City Vietnam. Para dokter di sana mengatakan gadisku itu terkena kanker tulang di kaki kiri, dan menyarankan untuk menjalankan kemoterapi.
Setelah dua kali siklus pengobatan, kondisi Tam bertambah parah. Para dokter mengatakan bahwa pengobatannya tidak berjalan baik, malah kanker itu telah tumbuh semakin besar dan menyebar. Aku sangat kesal saat mereka mengatakan bahwa gadisku akan meninggal. Tam baru berusia 15 tahun. Bagaimana mungkin aku membiarkannya meninggal?
Meskipun aku tak habis-habisnya memohon, para dokter tetap mengatakan tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkannya.
Ke mana pun aku pergi, aku selalu bertanya kepada siapa saja apa ada orang di Ho Chi Minh City yang bisa membantu putriku. Sayangnya, tidak ada seorangpun yang bisa membantu jantung hatiku.
Satu hari, aku melihat sebuah artikel di koran. Artikel itu menceritakan tentang Dr. Lee Kim Shang dan metode radioterapi yang baru di Singapura, yang dikenal dengan TomoTherapy. Aku tahu aku tidak punya pilihan, tapi bagaimanapun caranya aku harus membawa Tam ke Singapura, dengan harapan Dr. Lee dapat membantu menyelamatkan nyawanya. Saat aku bertemu Dr. Lee di Singapura, dia sangat jujur. Dia mengatakan bahwa radioterapi bukanlah cara untuk mengobati kanker tulang primer. Namun, dia menyarankan agar aku berkonsultasi dengan Dr. Ang Peng Tiam, seorang ahli kanker onkologi medis.
Hal pertama yang aku minta pada Dr. Ang adalah untuk mencoba menyelamatkan nyawa Tam sekuat tenaga. Dr. Ang menjelaskan bahwa kemungkinan Tam untuk sembuh sangat kecil, kaki kirinya mungkin harus diamputasi karena sudah berkembang menjadi kanker tulang yang sangat parah, mencakup seluruh tulang bokong kirinya.
Dr. Ang menjelaskan bahwa langkah pertama adalah menggunakan kemoterapi untuk membunuh kankernya. Kemoterapi bisa membantu memperkecil tumor yang sangat besar itu, yang sudah menonjol dari bokong Tam dan menutupi setengah dari pinggulnya. Jika kemoterapi berhasil pada tumor, pengobatan itu juga akan membantu membunuh sel-sel kanker kecil yang tidak tampak oleh mata telanjang. Dengan demikian, peluang kesembuhan putriku akan meningkat.
Aku langsung setuju, karena aku bersedia mencoba apapun yang bisa memberi kesempatan hidup bagi Tam.
Setelah beberapa kali siklus kemoterapi, Dr. Ang mengulangi scan komputer dan memastikan bahwa tumornya sudah mengecil. Dengan sabar, dia mengambil waktu untuk menunjukkan gambar-gambar scan itu padaku, menunjukkan bagaimana kanker itu telah mengecil. Aku sangat gembira mendengar berita bagus itu. Dari kasus yang tanpa harapan di Vietnam, kini aku mulai melihat cahaya harapan untuk hidup.
Dr. Ang mengingatkan bahwa meskipun tumornya sudah mengecil, ia masih menyarankan untuk mengamputasi kaki kiri Tam.
Aku terhentak, tak bisa kubayangkan hidup tanpa satu kaki. Tapi keputusan itu tidak sukar untuk diambil, karena Tam memang kena kanker dan yang aku inginkan adalah menyelamatkan nyawanya. Tam adalah seorang gadis yang sangat berani. Dia menerima pilihan amputasi untuk kaki kirinya.
Dr. Ang menghabiskan waktu yang lama untuk menjelaskan bahwa amputasi dapat memberi kesempatan sembuh bagi Tam, meskipun tidak ada jaminan. Namun tanpa pembedahan, tidak mungkin ada kesembuhan. Caranya menjelaskan membuat kami, aku dan Tam, lebih mudah mengambil keputusan. Dia membuat kami yakin sepenuhnya bahwa itulah hal yang harus dilakukan.
Ketika tumor sudah mengecil sampai ukuran yang tepat, amputasi pun dilaksanakan. Operasi berjalan sukses.
Saat ini, Tam sedang menjalani kemoterapi lagi untuk membunuh sel-sel kanker yang mungkin masih bersembunyi dalam tubuhnya. Ia sudah merasa lebih baik, dan kini bisa berjalan dengan tongkat.
Dr. Ang, yang tahu bahwa secara finansial cukup berat bagi Tam untuk datang berobat ke Singapura, juga membantu kami dengan meminta subsidi biaya pengobatan dari rumah sakit. Staf di klinik juga sangat membantu.
Sekali lagi, saya sangat berterima kasih kepada Dr. Ang dan semua staf klinik dan rumah sakit karena telah menyelamatkan nyawa Tam. Jika bukan berkat mereka, putriku yang sangat berharga mungkin telah tiada. Pengobatan medis juga sangat berbeda di Singapura jika dibanding dengan di Vietnam. Semua diterangkan dengan jelas dan dalam bahasa yang sederhana untuk memastikan pasien dan orang-orang yang mereka kasihi mengerti sepenuhnya tentang kondisi pasien dan pengobatan yang sesuai.
Sejauh ini, kami sangat gembira dengan hasilnya, dan jika Dr. Ang mengatakan kami harus datang berobat kembali, kami dengan senang hati akan melakukannya.
This article first appeared in "Mind Your Body", a Straits Times Supplement.