Bahasa Indonesia
  • English
  • 中文
  • Tiếng Việt
  • Pусский язык
  • العربية
 
  • Tentang PCC
  • Tim Kami
  • Layanan Kami
  • Informasi Kanker
  • Kanker Dukungan
  • Berita & Acara
  • Hubungi Kami

Anakku yang berani, Anakku Linh

Menyerah bukanlah pilihan bagi ibu ini. Dia menceritakan kisah mengharukan tentang perjuangan putrinya melawan kanker, dan membuktikan bahwa memang ada hidup setelah kanker.

Bagi Trinh Thi My Van dari Vietnam, hidupnya sungguh menyenangkan. Dia telah menikah dan dianugerahi tiga anak yang cantik-cantik dan hidup nyaman di keluarga kelas menengah. Jadi ketika kanker mendadak menyerang salah seorang anaknya, Anda pasti menduga hidupnya akan berantakan. Tapi dia ternyata bangkit dan berusaha keras bersama keluarganya mencari bantuan bagi putrinya untuk perang melawan kanker di Singapura.

“Putriku Nam My Linh, yang berusia 10 tahun, merupakan gadis kecil yang ceria dan aktif. Dia selalu masuk dalam daftar 10 besar di sekolahnya, dan sangat suka bermain-main dengan boneka Barbie-nya.”

Memang begitu lah anak seusianya. Tapi ketika dia pulang ke rumah dari sekolah dengan timpang, dua hari setelah pertama kali dia mengeluh sakit, aku menjadi sedikit takut.

Aku lalu membawanya ke rumah sakit ortopedi di Ho Chi Minh City. Di sana dia menjalani pemeriksaan sinar X, MRI dan CT scan.

Ketika esok harinya dokter menemui saya dengan hasil tes scan My Linh, hatiku pecah berkeping-keping. Dia mengatakan bahwa My Linh terkena osteosarcoma, yaitu sejenis kanker tulang. Aku tidak bisa mempercayainya. Putriku baru berusia 10 tahun. Aku pikir kanker adalah penyakit pada orang tua, di saat sistem kekebalan tubuh mereka sudah lemah.

Tapi aku sadar bahwa aku harus menerima kenyataan ini, sehingga saya membawa My Linh ke rumah sakit tanggal 20 September 2006, dengan jadwal biopsi tiga hari kemudian. Hatiku hancur saat melihat anak-anak kecil dengan tubuh rentan mereka terbaring di rumah sakit, dengan wajah pucat mereka mengisahkan ribuan kata yang tak terucap. Yang membuatku sedih adalah di balik selimut anak-anak ini, terdapat kaki yang sudah termakan kanker sehingga harus diamputasi. Sungguh mengerikan jika ternyata setelah sedemikian berat penderitaan yang harus mereka jalani, mereka tetap saja akan meninggal!

Tapi aku tak ingin kanker merenggut nyawa putriku. Dalam keputusasaanku, aku mengirimkan email kepada saudari-saudariku yang tinggal di AS dan meminta pertolongan mereka. Saudariku mengatakan bahwa sekarang banyak jenis kanker yang sudah bisa diobati, berkat riset-riset medis. Mereka menyuruhku untuk membawa My Linh keluar dari Vietnam, karena mereka merasa teknologi medis di sana belum cukup maju untuk mengobati kanker My Linh.

Jadi, saudari-saudariku membuat janji untuk bertemu dengan Dr. Mohler di Stanford University di California, AS pada tanggal 6 Oktober 2006. Tapi sebelum mengambil keputusan besar ini, aku pergi ke seorang dokter lain di Medical Diagnosis Centre MEDIC di Ho Chi Minh City, untuk memperoleh pendapat kedua. Di sana, dokter kami, Dr. Phan Thanh Hai sekali lagi memeriksa My Linh dan melakukan scan dengan ultrasound, sinar X, MRI dan CT scan. Setelah berkonsultasi dengan dokter-dokter lain, Dr. Phan mengkonfirmasi diagnosis dokter yang sebelumnya. My Linh memang mengidap osteosarcoma.

Meskipun aku menangis dalam hati, aku tetap tabah demi My Linh. Aku harus berpikir cepat untuk mengambil tindakan selanjutnya.. Dr. Phan memastikan ada pengobatan yang lebih maju di negara lain, dan bahwa kanker bisa disembuhkan. Hanya itu kata-kata yang perlu aku dengar. Dia juga mengatakan bahwa pengobatan medis di Singapura sudah semaju di AS.

Selain itu, pengobatan di AS bisa lebih mahal sepuluh kali lipat daripada di Singapura, dan kami masih harus mengajukan visa AS, yang bisa menjadi proses yang sangat lama. Aku tidak mau membuang-buang waktu lagi, karena aku tahu semakin lama kami menunggu, semakin besar kemungkinan tumor akan tumbuh, sehingga aku memutuskan untuk datang ke Mount Elizabeth Hospital di Singapura.

Pada tanggal 3 Oktober, kami terbang selama satu setengah jam dari Ho Chi Minh City ke Singapura. Hari berikutnya, kami bertemu dengan Dr. Ang untuk yang pertama kalinya. Kesan pertamaku, dia seorang dokter yang sabar dan lembut. Dalam konsultasi kami yang pertama, dia memeriksa dengan seksama film foto My Linh, memeriksa kakinya yang terasa sakit secara menyeluruh, dan menanyakan riwayat medis keluarga dengan sangat rinci. Kembali, Dr. Ang mengkonfirmasi bahwa My Linh menderita osteosarcoma.

Dari awal, aku sudah terkesan dengan profesionalisme Dr. Ang. Dia menjelaskan dengan terperinci bahwa dia akan menggunakan kemoterapi untuk mengecilkan dan membunuh sel-sel tumor dalam tubuh My Linh. Setelah enam siklus kemoterapi, dia akan melakukan transplantasi tulang untuk My Linh, yaitu mengganti tulang yang terkena kanker dengan tulang yang baru.

Biaya pengobatan untuk kemoterapi dan transplantasi tulang adalah sekitar S$70.000, yang merupakan angka yang wajar. Tapi, yang terpenting pada waktu itu adalah kesembuhan My Linh dan agar ia dapat mempertahankan kakinya.

Semua berjalan dengan sangat cepat setelah konsultasi kami yang pertama. Pada tanggal 5 Oktober, My Linh menjalani biopsi di Mount Elizabeth Hospital. Rumah sakit itu sama seperti hotel mewah di negaraku. Aku sangat senang mengetahui bahwa dia hanya memerlukan satu hari di rumah sakit. Setelah lukanya mengering, dia kembali ke rumah hanya dengan satu plester kecil di kakinya. Luar biasa!

Kemoterapinya yang pertama dijadwalkan pada tanggal 7 Oktober. My Linh mengikuti pengobatan kemoterapi di klinik Dr. Ang sehingga kami tidak perlu membayar kamar rumah sakit. Setiap siklus tiga hari membutuhkan waktu tiga jam, dan setelah itu kami menjalani pengobatan kemo di rumah melalui sebuah mesin portabel.

Sebagai akibat dari kemo, My Linh menderita efek samping yang cukup parah. Rambutnya rontok, dia muntah-muntah, tidak berselera makan dan sepanjang hari hanya berbaring di tempat tidur. Namun, setelah ia mendapatkan suntikan untuk meningkatkan tingkat hemoglobin-nya, perlahan-lahan dia merasa lebih baik. Selera makannya kembali baik dan dia menjadi lebih aktif. Dr. Ang meyakinkan kami bahwa rambutnya akan tumbuh kembali, jadi kami tidak perlu khawatir.

Sebelum kami menyadarinya, sudah tiba waktunya untuk melakukan transplantasi tulang pada My Linh. Saat itu belum sampai dua bulan setelah kami tiba di Singapura. Ketika Dr. Ang menunjukkan hasil sinar X kaki My Linh setelah sesi ketiga kemoterapinya, ternyata tumornya telah mengecil!

Jadi, tepat dua bulan setelah kemoterapi pertamanya, My Linh menjalani transplantasi tulang di rumah sakit. Aku sangat terkesan dengan kualitas layanan yang kami terima, meskipun kami berada di kamar yang termurah! Setiap pagi dokter akan datang ke kamar My Linh untuk memeriksanya. Semua sangat profesional dan efisien. Dan aku sadar bahwa inilah harga yang aku bayar; tidak ada jumlah yang bisa menebus layanan yang diberikan kepada kami.

Sebelum My Linh diijinkan pulang, dia harus menjalani beberapa sesi rehabilitasi yang mengajarkannya cara menggunakan kruk. Ahli bedahnya, Dr. Khong, mengatakan bahwa tulang yang baru bisa menyatu ke tulang yang lama setelah tiga sampai enam bulan.

Saat aku melihat My Linh di rehab, aku tersenyum penuh kebahagiaan. Tampak jelas dia akan memiliki masa depan yang cerah. Sungguh sukar dipercaya bahwa setelah semua cobaan yang dihadapi, My Linh bisa kembali ke Vietnam, pergi ke sekolah dan kumpul kembali bersama keluarga dan teman-temannya.

Satu-satunya harapanku sekarang adalah agar Vietnam bisa memiliki teknologi medis yang sama seperti yang aku lihat di Singapura, sehingga masyarakatnya tidak perlu lagi ketakutan saat mendengar kata Kanker dan mampu menjalani hidup setelah kanker.

This article first appeared in "Mind Your Body", a Straits Times Supplement.

Share |

Informasi Kanker

  • Tentang Kanker
  • Jenis-jenis kanker
  • Melawan Kanker
  • HealthNEWS
  • Kisah Harapan
  • Videos

Stories of HOPE

  • Aku tidak ingin kehilangan suaraku
  • Gadis Kecil yang mampu
  • Perjalanan Hidup Putriku
  • Dari Rusia dengan harapan... kesembuhan
  • Bayi Ajaib
  • Ketika Kanker Paru-paru Menyerang Kedua Kalinya
  • Hidup putriku di pelukanku
  • Hidup Baru, Darah Baru
  • Anakku yang berani, Anakku Linh

Link Terkait

  • Journey of HOPE Video Series
 
 
Home  |   Tentang PCC  |   Hubungi Kami  

Copyright © 2011 Parkway Cancer Centre.
No parts of this website can be reproduced without prior written permission from Parkway Cancer Centre.

When our loved one is diagnosed with cancer, we will want to ensure that he or she receives the very best care and treatments. Also whatever is needed to ensure recovery is carried out quickly and smoothly. At Parkway Cancer Centre (PCC) you can be certain that all patients would be well taken care of.

Parkway Cancer Centre offers comprehensive cancer treatment with a highly skilled, multi-disciplinary team comprising consultant medical specialists, nurses, counsellors and other para-medical professionals to meet the specific needs of cancer patients. Our Centre uses the latest technologies in cancer treatment to help you access proven innovative therapies for the best clinical outcomes.

Our commitment is to provide a comprehensive holistic treatment of cancers in a safe and comfortable environment, where patients are attended to by caring and experienced professionals.

(65) 6735 5000
www.parkwaycancercentre.com
www.facebook.com/parkwaycancercentre

We Treat

Bladder cancer, Brain Tumor/cancer, Breast cancer, Colorectal cancer, Gastro-Intestinal cancer, Kidney cancer, Leukemia, Liver cancer, Lung cancer, Lymphomas (Hodgkin's/Non-Hodgkins), Nasopharyngeal cancer, Oral & Maxilofacial cancer, Ovarian & Cervical cancer, Prostate cancer, Thyroid cancer.

Our Centres

Gleneagles Hospital
6A Napier Road Level 2
Singapore 258500

Gleneagles Hospital
6A Napier Road #01-35
Singapore 258500

Mount Elizabeth Hospital
3 Mount Elizabeth
Level 2
Singapore 228510

Mount Elizabeth
Medical Centre

3 Mount Elizabeth
#13-16/17
Singapore 228510

Gleneagles Hospital
(Annexe Block)

6A Napier Road #04-37
Singapore 258500


CanHOPE, a non-profit cancer counselling & support service and hotline, is an initiative by Parkway Cancer Centre. It is a resource for information about cancer and its available screening tests and treatments for both patients and the general public. CanHOPE is manned by an experienced, knowledgeable and caring support team who have access to comprehensive information from reputable resources on a wide range of cancer topics, including treatment options for cancer. Our support team will take as much time as required to provide thorough and personalised attention. All information provided are kept confidential.

CanHOPE also runs a face-to-face cancer counselling & support service at our offices where our support team are based. The objective of this service is to address the psychosocial needs of patients and families across an entire spectrum of the disease from diagnosis to “living with cancer” to palliative care.

Singapore Gleneagles Hospital
6A Napier Road #02-24
Singapore 258500
(65) 6738 9333

www.canhope.org
www.facebook.com/iamcancerwarrior