![]() |
Dr Ang Peng Tiamdalam Pikirkan Tubuh AndaDirektur medis di Parkway Cancer Centre sudah merawat pasien kanker selama hampir 20 tahun. Di tahun 1996, Dr Ang dianugerahi penghargaan Singapore's National Science Award atas kontribusinya yang luar biasa dalam penelitian medis. Beliau baru-baru ini juga menerbitkan sebuah buku tentang kisah cerita pasien yang berjudul "Dokter, Saya Mengidap Kanker. Bisakah Anda Membantuku?", yang sudah diterjemahkan ke dalam empat bahasa. |
Mencintai dan merelakan
Seorang pasien saya baru saja meninggal setelah berperang melawan kanker paru-paru selama empat tahun.
Suaminya adalah seorang pria yang luar biasa. Dia sangat mencintai istrinya dan selalu mendampinginya melewati perjuangan sampai akhir. Hal yang menyedihkan bagi pasien ini adalah kankernya menyebar sampai ke otak dan meskipun pengobatan radiasi telah diberikan untuk seluruh otaknya, tapi kankernya tidak bisa dikendalikan dan dia sudah separuh koma.
Meskipun kondisi mentalnya parah, sang suami terus berbicara kepadanya dan memegangi tangannya. Setiap respon kecil (dan secara objektif, respon tersebut merupakan respon yang kecil) akan memberinya kegembiraan dan kepuasan yang luar biasa. Dia terus merawat sang istri sampai akhir hayat.
Saya menelepon suaminya kira-kira satu bulan setelah istrinya meninggal untuk melihat bagaimana dia mengatasi semua kenyataan itu. Dia berkata bahwa dia masih sangat kehilangan istrinya tapi sangat bahagia dengan masa-masa empat tahun tersebut.
Di hari-hari penuh dengan cinta plastik dan bunga palsu, saya merasa bersyukur bisa menyaksikan cinta sejati di saat sakit dan di ambang kematian.
Kanker membuat pikiran terfokus pada penyakit tersebut, dan bukan pada yang lainnya. Keterkejutan awal saat diberitahu mengidap kanker bukanlah sesuatu yang bisa dilupakan dengan mudah oleh pasien. Tahun demi tahun berlalu, pasien masih bisa mengingat bagaimana perasaan mereka saat dokter pertama kali mengkonfirmasikan bahwa mereka mengidap kanker.
Terkadang, pilihan yang Anda miliki untuk memilih antara hati Anda dan pikiran Anda sangatlah menyakitkan. Sebagai contoh, ada banyak kemajuan dalam pengobatan kanker yang berarti hasil yang lebih baik untuk pasien kanker. Beberapa perbaikan ini sangatlah dramatis.
Sebagai contoh, ada kanker yang langka bernama Gastrointestinal Stromal Tumor (Gist). Di masa lampau, kami mengelompokkan semua kanker yang muncul dari perut sebagai “sarcoma jaringan lunak”. Saya masih bisa mengingat hari-hari itu ketika saya takut melihat pasien dengan kanker jenis itu.
Program kemoterapi yang kami tawarkan bersifat racun dan impoten. Meskipun kami sudah berusaha sebaik mungkin, rentang hidup rata-rata dari seorang pasien pengidap tumor ini adalah antara enam bulan sampai setahun.
Di tahun 2001, sebuah obat minum baru, bernama Gleevec, diakui sebagai pengobatan terhadap Gist. Dengan mengkonsumsi empat pil dalam satu hari, kanker mencair seperti es di atas piring panas – kanker berubah menjadi cairan. Selama pasien terus mengkonsumsi obat tersebut, kanker tidak akan menyebar. Tapi, setelah pengobatan dihentikan, kanker kembali tumbuh.
Pasien bisa bertahan hidup lebih dari lima tahun selama mereka mampu membeli pengobatan tersebut. Tapi, pengobatan ini menghabiskan $4500 sebulan dan banyak orang tidak mampu membelinya. Bagi orang-orang seperti itu, ini merupakan perjuangan yang berat – apa Anda harus memohon, meminjam atau mencuri untuk membuat orang yang Anda cintai tetap hidup? Apa Anda harus menjual rumah yang akan diberikan kepada anak-anak Anda, untuk membelinya kembali beberapa tahun kemudian?
Semua ini adalah pertanyaan yang tidak mudah. Lebih sulit lagi, bahkan dengan perawatan dan pengobatan terbaik, ada saat-saat dimana pasien harus menghadapi kematian. Seorang pasien kanker berkata kepada saya bahwa kanker adalah jenis penyakit yang baik hati karena kanker memberikan waktu persiapan untuk mengucapkan selamat tinggal. Dia punya keberanian yang besar. Hari kematian pun datang bagi pasien yang mungkin terlalu lemah untuk mentoleransi pengobatan atau bagi mereka dengan sel kanker yang kebal terhadap semua jenis pengobatan yang sudah diberikan untuk mengendalikan penyakit.
Bagi saya (dan saya rasa bagi kebanyakan dokter), menyampaikan berita kepada pasien yang menjelaskan bahwa sudah tidak ada lagi pengobatan yang bisa dilakukan merupakan hal yang paling sulit. Bahkan, lebih sulit daripada mengungkapkan bahwa mereka mengidap kanker. Segera setelah kami memberikan kabar buruk, kami menawarkan rencana pengobatan yang bisa memberikan kesempatan hidup bagi mereka. Tapi, jika kami mengatakan tidak ada yang bisa kami lakukan selain “menjalankan perawatan pendukung yang terbaik”, kami berkata bahwa kanker sudah memenangkan pertarungan dan yang bisa kami lakukan adalah menunggu. Pasien yang tidak siap akan berkata: “Menunggu apa? Menunggu kematian?” Saya masih belum tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Tidak ada cara “terbaik” untuk menyampaikan berita terburuk. Bagaimana pasien merespon tergantung pada seberapa siap dia menghadapi kematian. Beberapa orang akhirnya “lega” mendengar apa yang sudah mereka ketahui selama ini.
Bagi keluarga dan orang yang dicintai, sebuah garis yang tipis memisahkan antara “cinta yang tidak pernah punah” dan “tidak bisa merelakan”. Hal ini kembali pada keputusan dan tindakan yang diambil bagi pasien. Memang hal ini terdengar seperti tidak romantis, tapi cinta sejati memang seringnya demikian.
