![]() |
Dr Ang Peng Tiamdalam Pikirkan Tubuh AndaDirektur medis di Parkway Cancer Centre sudah merawat pasien kanker selama hampir 20 tahun. Di tahun 1996, Dr Ang dianugerahi penghargaan Singapore's National Science Award atas kontribusinya yang luar biasa dalam penelitian medis. Beliau baru-baru ini juga menerbitkan sebuah buku tentang kisah cerita pasien yang berjudul "Dokter, Saya Mengidap Kanker. Bisakah Anda Membantuku?", yang sudah diterjemahkan ke dalam empat bahasa. |
Jangan terlalu banyak berharap pada kesembuhan ajaib
Baru saja, seorang wanita Indonesia keturunan China yang masih muda datang dan memberitahu saya bahwa dia memutuskan untuk menghentikan pengobatan karena dia sudah menjalani sesi penyembuhan alternatif/keyakinan dan percaya bahwa dia sudah sembuh. Saya sudah melihat kejadian ini beberapa kali.
Beberapa orang bersikap religius, beberapa lainnya ditipu oleh praktisi palsu. Saya pernah bertemu seorang wanita dengan kanker ovarium stadium lanjut yang merespon kemoterapi dengan baik. Kanker ovarium adalah penyakit yang sangat sensitif terhadap kemoterapi – yang artinya merespon pengobatan kemoterapi dengan baik. Tapi, kebanyakan pasien tidak bisa disembuhkan. Penyakit ini hanya bisa dikendalikan dengan pengobatan untuk memperpanjang usia hidup.
Sekarang, wanita ini mendatangi praktisi TCM (Traditional Chinese Medicine – Pengobatan Tradisional China) yang memberikannya beberapa ramuan untuk mengeluarkan racun tubuhnya. Beberapa waktu kemudian, saya tak sengaja menemukan dia di ruang pemeriksaan, ketika dia diperiksa oleh dokter lain.
Dia pucat – sangat kurus sehingga terlihat seperti seorang tahanan perang yang kurang gizi. Dengan balutan kulit yang menutupi tulang-tulangnya. Tubuhnya bengkak dengan cairan yang menggelembung di perutnya seperti seorang wanita hamil tua. Sungguh pemandangan yang menyedihkan.
Saya bertanya bagaimana keadaannya dan dia berkata: “Saya hampir sembuh. Dokter China itu memberitahu saya satu minggu lagi saya akan sepenuhnya sembuh dari kanker saya.” Keesokan harinya, saya berkunjung dan menemukan dia sudah meninggal semalam.
Bagaimana orang bisa membiarkan dirinya sendiri ditipu dengan cara ini? Ada pasien yang mencoba pengobatan alternatif dan meninggalkan pengobatan konvensional. Dan, karena kanker seringkali menjadi kasus antara hidup dan mati, mungkin wajar jika agama menjadi salah satu topik pembahasan. Beberapa pasien memilih untuk tidak diobati – pengobatan, pikir mereka, adalah indikasi dari kurangnya kepercayaan. Apa yang harus saya katakan kepada pasien yang memberitahu tentang pengobatan alternatif/kepercayaan? Ini topik yang sangat sulit. Semua ini benar-benar tergantung pada pandangan pasien terhadap pengobatan alternatif dan bagaimana dia menjalaninya.
Jika memungkinkan, saya kadang mengingatkan mereka bahwa percaya pada Tuhan itu penting, sama pentingnya dengan peranan kita dalam proses penyembuhan. Analogi yang sering saya gunakan adalah murid yang mengikuti ujian. Jika dia tidak melakukan perannya dengan memperhatikan pelajaran di kelas, menyelesaikan PR dan belajar, maka dia tidak bisa berharap akan mampu menyelesaikan ujian hanya dengan berdoa atau percaya saja.
Banyak orang Kristen bertanya kepada saya apakah saya pernah melihat keajaiban. Saya selalu merespon bahwa saya belum pernah melihat keajaiban, tapi saya terus melihat kebaikan Tuhan. Salah satu kebaikan yang pernah saya lihat sebagai “keajaiban” adalah seorang pasien berumur 60-an bernama Esther Tan.
Dia menderita kanker pankreas stadium empat, dengan multi metastasis di hati. Setelah lebih dari setahun menjalani kemoterapi, semua kankernya lenyap dan dia tetap sehat dan terbebas dari penyakit itu. Dia terus bekerja sebagai penasihat sekolah paruh waktu.
Alasan lain mengapa “obat ajaib” menjadi topik yang sensitif adalah karena orang-orang yang membutuhkan harapan terkadang menolak kesempatan yang diberikan. Saya paham alasannya. Saya seringkali berkata bahwa “hidup tanpa harapan lebih buruk daripada kematian itu sendiri”. Namun, saya sangat sering melihat pasien dengan kanker stadium lanjut terus mencari pengobatan meskipun telah diberitahu oleh dokter bahwa “obat-obatan Barat” tidak mampu berbuat apa-apa. Anda bisa membayangkan seberapa kecewa mereka saat saya sebagai dokter lain mengatakan bahwa saya hanya bisa memberikan pengobatan yang akan mengurangi gejala dan membantu mengurangi rasa sakit dan penderitaan mereka.
Dan Anda juga bisa memahami kebahagiaan yang dirasakan beberapa pasien lain ketika saya memberikan sedikit harapan kepada mereka – bahwa ada pengobatan yang mungkin bisa mengendalikan kanker mereka.
Berhati-hatilah dengan pengobatan alternatif.
Ketika obat-obatan Barat gagal, pasien biasanya akan mencoba cara lain. Anda akan terkejut dengan betapa banyaknya pasien kanker yang mengkonsumsi obat-obatan China tradisional. Saya tahu karena para pasien bercerita kepada saya – mereka tahu saya tidak akan keberatan jika mereka minum ramu-ramuan. Mereka secara terbuka menceritakan apa yang mereka konsumsi. Lingzhi, pian che huang, cordyceps dan ginseng adalah obat-obatan alternatif yang biasa mereka gunakan.
Meskipun saya tidak secara terbuka mendukung atau mempromosikan penggunaan TCM, saya juga tidak menghalangi atau keberatan dengan pasien saya yang menggunakannya. Saya hanya meminta mereka untuk tidak memulai TCM pada siklus kemoterapi pertama. Asalannya adalah saya harus tahu apakah kemoterapi saya menyebabkan efek samping. Jika kedua pengobatan dilakukan pada saat yang bersamaan, nantinya akan membingungkan untuk mencari tahu apakah efek samping yang ditimbulkan disebabkan oleh kemoterapi atau TCM.
Saya tidak pernah mengenal ada orang yang sembuh dari kanker karena TCM. Namun, saya mengenal beberapa dokter China yang bagus. Mereka terkadang bisa memberikan resep yang membuat pasien merasa nyaman dan mampu menahan kemoterapi dengan lebih baik, mengurangi beberapa efek sampingnya.
Obat ajaib sebenarnya, bagi saya, datang dari penelitian selama beberapa dekade tentang pemahaman molekul dasar kanker. Agen-agen seperti Rituximab dalam pengobatan limfoma, Herceptin dalam kanker payudara, dan Iressa dalam kanker paru-paru menawarkan kemungkinan hidup yang lebih baik bagi pasien dalam melawan kanker.
Selama pasien bersedia untuk menerima pengobatan konvensional, saya tidak berkeberatan jika mereka percaya pada keajaiban. Pada akhirnya, yang terpenting adalah pasien sembuh, tidak peduli apakah pujian akan diberikan kepada saya atau kepada obat “ajaib” yang sudah diminumnya.
